Komnas HAM Respons Aduan Tim Advokasi Jurkani

Tim Advokasi Jurkani dan Komnas HAM, Rabu 24 November 2021.

Tim Advokasi “Perjuangan Rakyat Kalimantan Selatan Melawan Oligarki” atau disingkat JURKANI bertemu dengan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Republik Indonesia (Komnas HAM) di Jakarta, Rabu 24 November 2021.

Tim melakukan audiensi terkait kasus penyerangan terhadap almarhum Advokat Jurkani, S.H. pada tanggal 22 Oktober 2021 ketika sedang menjalankan tugasnya melawan penambangan ilegal di Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan.

Tim Advokasi JURKANI diterima oleh Koordinator Subkomisi Penegakan HAM sekaligus Komisioner Mediasi-Hairansyah, Komisioner Pemantauan/Penyelidikan Mohammad Choirul Anam beserta jajarannya. Dari Tim Advokasi JURKANI hadir diwakili oleh Wigati Ningsih dan Muhamad Raziv Barokah. Hadir pula secara daring antara lain Denny Indrayana dari Melbourne, Kisworo Dwi Cahyo selaku Direktur WALHI Kalimantan Selatan, dan Swary Utami Dewi.

Audiensi dengan Komnas HAM adalah upaya lanjutan Tim Advokasi JURKANI dalam menyelesaikan tuntas perkara penyerangan brutal dengan senjata tajam yang mengakibatkan korban luka parah hingga meninggal dunia.

“Jadi pembacokan brutal yang pada akhirnya menewaskan Jurkani tidak hanya karena para pelaku sedang mabuk lalu salah paham, lebih dari itu, kuat dugaan Jurkani dieksekusi karena sedang melawan tambang illegal,” tegas Raziv Barokah, anggota Tim Advokasi JURKANI lewat siaran pers ke banjarhits.com.

Kisworo Dwi Cahyono tidak percaya apabila tersangka pelaku pembacokan almarhum Jurkani karena mabuk. “Saya kenal 2 orang tersangka itu karena mereka juga mengincar saya dan beberapa teman-teman saya karena aktif mengadvokasi kasus kriminalisasi terhadap jurnalis Diananta dan lainnya,” lanjut Kisworo.

Menurut Denny Indrayana, tim Advokasi JURKANI meminta kepada Komnas HAM untuk dapat terlibat dalam mengawal jalannya proses penanganan perkara mengingat selain adanya dugaan kuat keterlibatan oligarki dan mafia, keamanan pribadi para saksi, keluarga, harta benda dan penghidupannya pun terancam.

BACA JUGA  Edan! Pria Ini Kantongi Narkoba ke Mapolsek Babirik

Denny indrayana menjelaskan bahwa yang mereka lawan ini oligarki berkarakter mafioso. Oleh karena itu, kata Denny, dapat dengan mudah memanipulasi motif, pelaku, fakta-fakta, bahkan memberikan intimidasi menggunakan kedekatannya dengan para oknum aparat keamanan serta penguasa, sehingga sering kali untouchable.

“Terbukti dengan kasus-kasus serupa di Kalsel yang telah mengakibatkan jatuhnya banyak korban masyarakat, baik yang berprofesi sebagai guru, jurnalis, tokoh adat, hingga advokat yang meninggal ataupun masuk penjara,” cetus Denny Indrayana.

Komisioner Komnas HAM Mohammad Choirul Anam mengatakan dalam beberapa kasus, Komnas HAM seringkali mencurigai adanya ketidakprofesionalan aparat penegak hukum pada saat menangani perkara. Dalam hal munculnya kecurigaan tersebut, Komnas HAM akan membuat konstruksi perkara sendiri sebagai pembanding.

“Terkait dengan kejadian penyerangan terhadap almarhum Jurkani ini, Komnas HAM akan mendalami perkara dan meminta bantuan Tim Advokasi JURKANI untuk memberikan informasi dan data terkait,” ujar Choirul Anam.

Adapun Hairansyah menambahkan sudah menjadi tugas pokok dan tanggung jawab dari Komnas HAM untuk menindaklanjuti perkara ini. “Kami akan memeriksa kembali kronologi kejadian, mencoba mengkonstruksi kembali peristiwa agar dapat meyakinkan Komnas HAM untuk merekomendasikan penanganan proses hukum dialihkan ke Mabes Polri,” katanya.

Vinkmag ad
Bagikan ini :

M Xaverius

Read Previous

Batola Status Siaga Bencana, Wabup: Masyarakat Waspada

Read Next

3 Terduga Pengedar Narkoba Digerebek Polisi

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *