Masyarakat Sipil Bentuk Tim Advokasi Jurkani

Jurkani.

Gabungan advokat, akademisi, aktivis lingkungan dan hak asasi manusia dari berbagai elemen masyarakat sipil membentuk tim advokasi untuk kasus pembacokan terhadap advokat Jurkani. Tim advokasi diberi nama PerJUangan Rakyat Kalimantan selatan melawaN OligarkI alias JURKANI.

Jurkani seorang pengacara pemilik IUP batu bara PT Anzawara Satria yang menderita luka parah akibat pembacokan pada Jumat, 15 Oktober 2021. Setelah dirawat hampir dua pekan, korban Jurkani meninggal dunia pada 3 November 2021

“Pemilihan diksi dan akronim JURKANI ini bukanlah tanpa sebab dan tujuan, tetapi salah satunya memang didedikasikan untuk mengadvokasi pembunuhan Almarhum JURKANI yang sedang menjalankan tugasnya sebagai advokat yang melakukan advokasi melawan penambangan tanpa izin (tambang ilegal) di wilayah Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan,” tulis anggota Tim Advokasi JURKANI, Denny Indrayana lewat siaran pers kepada banjarhits.com, Sabtu 20 November 2021.

Menurut Denny Indrayana, Jurkani sebagai martir sekaligus ikon perjuangan, di samping martir dan ikon lainnya seperti Hadriansyah, Guru SD yang meregang nyawa karena memprotes aktivitas pertambangan milik pengusaha berpengaruh di Kalsel; Trisno Susilo, Pengurus Aliansi Masyarakat Adat Nusantara yang divonis penjara 4 tahun; Muhammad Yusuf, wartawan yang dijebloskan ke dan meninggal di dalam penjara setelah mewartakan konflik perebutan lahan yang melibatkan perusahaan orang kuat di Kalsel; hingga pada tahun 2020 Diananta Putra Sumedi, wartawan Banjarhits.id, yang juga dibui karena memberitakan sengketa lahan yang dialami masyarakat Dayak di Kalimantan Selatan.

Meski JURKANI adalah ikon tim advokasi ini, kata Denny, perjuangan ini bukan hanya untuk JURKANI dan tanpa mengecilkan arti dan peran martir-martir lainnya semata. Namun jauh lebih luas merupakan perjuangan rakyat Kalimantan Selatan untuk melawan oligarki dan memperjuangkan kepentingan publik secara probono alias dengan niat yang ikhlas.

BACA JUGA  Titian Antasan Bromo Makan Korban

“Musababnya, oligarki tidak hanya menyebabkan nyawa-nyawa tak berdosa melayang, tetapi juga telah berhasil mengkooptasi aparatur negara dan penegakan hukum, membungkam kebebasan berpendapat, mengekang kebebasan pers, menyebabkan pelanggaran hak asasi manusia, menimbulkan kerusakan lingkungan dan bencana ekologi lainnya, menciptakan persaingan bisnis tidak sehat, membajak demokrasi, hingga memicu korupsi politik dan kekuasaan,” lanjut Denny Indrayana.

Sebagai langkah awal, Tim Advokasi JURKANI akan melakukan audiensi dengan pimpinan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban, dan Komisioner Komisi Nasional Hak Asasi Manusia pada pekan depan. Di samping itu, Tim Advokasi juga melakukan langkah-langkah pencarian fakta, pendampingan saksi dan keluarga korban, serta konsolidasi internal.

Denny bilang komposisi Tim Advokasi JURKANI tidak akan bersifat elitis dan tertutup, namun bersifat terbuka bagi bergabungnya elemen-elemen perjuangan lainnya.

“Karena lawan yang dihadapi memiliki kekuatan finansial, pengaruh dan kekuasaan, maka Tim Advokasi JURKANI penting untuk melipatgandakan kekuatan dengan membuka ruang bagi elemen publik lainnya. Tentu saja, dengan catatan harus memiliki kesamaan visi dan agenda perjuangan,” tutup Denny Indrayana.

Adapun komposisi awal Tim Advokasi JURKANI di antaranya Luthfi Yazid, Iwan Satriawan, Denny Indrayana, Berry Nahdian Furqan, Febri Diansyah, Erlina, Kisworo Dwi Cahyono, Noorhalis Majid, Swari Utami Dewi, Surya Fermana, dan Irana Yurdiatika.

Vinkmag ad
Bagikan ini :

M Xaverius

Read Previous

Ponsel Pintar Jadi Atensi Bunda PAUD Kalsel

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *