Pameran Poster: KPK Melempem dan Tikus Rakus

Pameran poster Berani Jujur Hebat Pecat.

Komisi Pemberantasan Korupsi melempem, pesan kuat pada seluruh karya seni poster yang terpajang di kedai teh berarsitektur rumah joglo. Sebanyak 55 karya seni ini mengecam pelemahan komisi antirasuah. Dinding Warung Teh Umran atau Wikiti yang sejuk dengan hamparan sawah di depannya penuh gambar bernada melawan koruptor. Pameran poster dan diskusi bertajuk Berani Jujur Hebat Pecat berlangsung selama dua pekan, mulai 1 hingga 15 Juni 2021.

Selain memamerkan poster, panitia menggelar diskusi bersama eks pimpinan KPK, pegawai KPK yang tidak lolos tes wawasan kebangsaan, akademikus, aktivis perempuan anti-korupsi, dan kurator seni. Pusat Kajian Anti Korupsi Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, Aliansi Jurnalis Independen Yogyakarta, Lembaga Bantuan Hukum Yogyakarta, Connecting Design Studio, Koperasi Edukarya Negeri Lestari, dan Potluck Studio menggagas acara tersebut.

Kurator seni, Anang Saptoto selama dua pekan mengumpulkan total 55 poster. Sebanyak 31 poster merupakan desain seniman dan 25 sisanya hasil reproduksi foto kiriman. Dua puluh lima poster partisipatoris itu berasal dari jurnalis, aktivis perempuan, seniman, musisi, kurator pameran, arsitek, dan pegiat lembaga bantuan hukum. Anang menegaskan untuk bersama-sama melawan pelemahan KPK dengan cara foto selfi dan pernyataan sikap.

Jauh dari kemewahan galeri, kurator dan seluruh panitia acara memilih lokasi pameran yang pemiliknya punya ideologi memberdayakan masyarakat. Seniman yang terlibat sebagian mewarnai perbincangan publik karena karya-karyanya kental dengan kritik sosial dan politik.

Tengoklah karikatur dan kartun karya kartunis Toni Malakian yang keras mengkritik Ketua KPK Firli Bahuri dan tes wawasan kebangsaan. Karya itu menggambarkan Firli yang berotot dengan mulut menganga penuh air liur.

Firli mengacungkan pentungan penuh duri bertuliskan TWK (tes wawasan kebangsaan) dan tangan kiri memegang besi. Layaknya dajal, pimpinan KPK dengan bola mata melotot itu sedang berjalan menghampiri gedung KPK.
Di depan gedung KPK berdiri sekelompok orang sebagai pagar betis.

BACA JUGA  BPBD Tanbu: Waspada Curah Hujan Tinggi Mei-Juni

Sebagian dari mereka demonstran yang membawa pengeras suara. Ada juga polisi dengan tameng huru hara memukul dan menginjak kaki pengunjuk rasa hingga keluar ceceran darah.

Toni adalah kartunis yang aktif menyuarakan perlawanan terhadap pelemahan KPK sejak ramai-ramai Revisi Undang-Undang KPK. Karyanya kerap bermunculan di media massa dan media sosial dan menjadi perbincangan publik.

Poster yang berisi kritik tes wawasan kebangsaan juga tergambar dari karya Yngvie A. Nadiyya. Poster itu bergambar gedung KPK yang diselimuti awan berwarna hitam dan petir.

Tujuh pegawai KPK menenteng koper di halaman gedung. Baju mereka masing-masing di antaranya bertuliskan no LGBT, TWK gagal, dan intervensi negara.

Yngvie melalui karya ini memprotes pelemahan KPK melalui tes wawasan kebangsaan terhadap 75 pegawai. Sejumlah kalangan mengkritik tes yang bernada seksis, diskriminatif, dan dengan pelabelan radikalisme. Tujuan tes itu untuk menyingkirkan pegawai berintegritas.

Sejumlah pertanyaan diskriminatif tersebut misalnya pendapat pegawai tentang Partai Komunis Indonesia, pembubaran Hizbut Tahrir Indonesia dan Front Pembela Islam serta membaca doa qunut atau tidak saat menunaikan salat subuh. Ada juga pertanyaan alasan belum menikah, apa saja yang dilakukan saat pacaran, dan Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender atau LGBT. Tes itu mengingatkan orang pada kekuasaan
pemerintahan Orde Baru, misalnya penataran Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila dan proses penelitian khusus.

Poster lainnya banyak mengeksplorasi gambar tikus sebagai simbol koruptor yang menyerang KPK. Karya seniman Kemal Sampurna misalnya menggambarkan tiga tikus yang mengendus sekantong uang. Citraan berjas hitam dan kepala berupa tengkorak berdiri di samping tikus, mendengarkan dengan seksama. Kemal membubuhkan tulisan depak lalu kuasai dan komisi pelayan koruptor.

BACA JUGA  GR, Warga Kamsel Ditangkap Punya Sabu

Gambar tikus yang menyerbu gedung KPK juga muncul pada karya Chrisna Fernand. Binatang pengerat itu memenuhi lantai gedung yang menyerupai museum. Chrisna menyertakan tulisan Dirty Museum pada karyanya.

Di deretan poster parsipatoris muncul sejumlah nama seniman mapan yang karya-karyanya mewarnai media massa dan ramai publik bicarakan. Gunawan Maryanto misalnya menjadi salah satu peserta pameran.

Seniman teater, aktor utama terbaik Festival Film Indonesia 2020 itu berkolaborasi dengan Dian Suci Rahmawati atau biasa disebut Ultramen.

Mereka membuat satu image kursi singgasana mewah berlatar warna oranye dengan imbuhan teks puisi bertuliskan “ Siapa di sana: Satu orang, sedikit orang, banyak orang? Di sini: Banyak hilang”. Ada juga pasangan perupa Nindityo Adipurnomo dan Mella Jarsma yang terkenal dengan karya seni kontemporer, mengirimkan foto dan narasi yang kemudian Anang olah menjadi poster.

Anang berusaha menfasilitasi orang-orang yang ingin menyuarakan pendapatnya dengan cara mengajak mereka mengirim foto selfi dan pernyataan sikap. Foto-foto tersebut kemudian diolah menjadi foto hitam putih dengan teks pernyataan yang menabrak muka masing-masing orang.

Kurator seni yang aktif dalam dunia aktivisme sosial ini menekankan pentingnya seni tidak hanya sebagai makna belaka. Seni menjadi media untuk menyatakan sikap di tengah peremukan KPK beserta gempuran
hegemoni seni dan budaya. Pelan-pelan, pemilik modal dan jabatan- jabatan politis menguasai seni. (Shinta Maharani)

Vinkmag ad
Bagikan ini :

diananta putra sumedi

Editor

Read Previous

Hasil Sidak Satgas Layanan Publik di RSUD Abdul Azis

Read Next

Massa Aksi: Tangkap Puar Junaidi yang Ancam Demokrasi

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *