Hikayat Idul Fitri dan Jeruji Penjara

Ilustrasi orang di dalam penjara. Foto: Pixabay.com

Mendung menyambut perayaan hari pertama Idul Fitri 1442 Hijriah tahun 2021 di Banjarmasin. Namun, awan mendung ini tidak sesuram pengalaman pribadi saat merayakan lebaran Idul Fitri 1441 Hijriah tahun 2020. Lebaran saat raga dihimpit deretan jeruji besi.

Kumandang takbir setiap 1 Syawal selalu dinantikan umat Islam. Hari kemenangan setelah satu bulan penuh menunaikan ibadah puasa Ramadan — bulan penuh ampunan dan sejuta kebaikan.

Setelah matahari pagi mulai terbit pada 1 Syawal, muslim berduyun-duyun mendatangi area masjid atau tanah lapang menunaikan ibadah salat Ied. Mereka mematutkan diri dengan pakaian terbaiknya untuk bersujud kepada sang Khalik.

Merakayakan hari kemenangan sudah sepatutnya dengan raga yang bebas dan merdeka. Raga yang tidak dibelenggu oleh sekat-sekat jeruji besi berdinding tembok kusam. Raga sebagai manusia merdeka.

Bersyukurlah umat Islam yang masih diberi kesempatan menunaikan salat Ied dengan raga merdeka, lalu saling silaturahmi ke sanak kerabat, tetangga, dan kolega. Kalaupun tidak mudik karena pandemi Covid-19, minimal bisa silaturahmi lewat video call dan bertukar pesan ucapan selamat Idul Fitri di grup-grup WhatsApp, Facebook, dan lini massa media sosial.

Lebaran biasanya identik kuliner khas sebagai menu wajib di ruang tamu. Lebaran Idul Fitri 1442 Hijriah tahun 2021 jatuh pada 13 Mei 2021. Adapun lebaran Idul Fitri 1441 Hijriah jatuh pada 24 Mei 2020. Dua momen lebaran yang sama-sama dirayakan dalam kondisi pandemi Covid-19.

Tapi, bagi saya pribadi, momen Lebaran Idul Fitri 1441 Hijriah menjadi catatan dalam lembaran hidup seorang wartawan. Lebaran dalam kondisi raga diterungku jeruji besi dan tembok kokoh penjara.

Jangankan ketemu kerabat, telepon ke istri pun kesulitan. Lebaran yang semestinya disambut gembira, justru dirundung murung dan keprihatinan. Jeruji besi yang memutuskan tali silaturahmi. Satu detik berucap salam ke keluarga, menjadi hal paling istimewa ketika raga sudah dibui.

BACA JUGA  Uhai Jual Narkoba ke Polisi di Pos Kamling

Lantunan takbir pada Rabu malam sampai Kamis pagi ini, mengingatkan saya atas peristiwa kelam satu tahun lalu, tepatnya 24 Mei 2020 atau 20 hari setelah saya masuk penjara pada 4 Mei 2020. Sengketa karya jurnalistik membawa saya ke penjara.

Dari balik tembok penjara, saya cuma bisa mendengar kumandang takbir di sela riuh letupan petasan. Lantunan sayup-sayup kumandang takbir mengingatkan saya pada sebuah memori saat bersua anak, istri, keluarga, dan orang tua untuk merayakan Idul Fitri di kampung halaman.

”Allahuakbar, Allahuabar, Allahuakbar.” Sayup-sayup gema takbir berkumandang dari balik tembok penjara Rutan Polres Kotabaru.Selapas subuh, sebagian tahanan dan narapidana antre mandi, mengambil air wudlu, lalu mematutkan diri dengan pakaian terbaiknya.

Selasar tengah Rutan Polres Kotabaru menjadi tempat salat Ied. Jemaahnya tak begitu banyak, memang. Mayoritas tahanan memilih tidur, ketimbang salat Ied. Sekalipun salat Ied, toh para tahanan tetap merayakan hari kemenangan dengan suasana hambar.

Imam salat dan khotbah dipimpin seorang tahanan kasus penggelapan. Pria ini disebut Guru karena dianggap paham soal agama. Saat itu, kangen rasanya mendengar suara anak, istri, dan orang tua, sekalipun lewat percakapan telepon satu detik.

Kami, sesama tahanan, harus antre bergantian meminjam telepon seluler untuk melepas kangen saat lebaran tiba. Itu pun jika beruntung bisa mengontak keluarga. Jika tak beruntung, bersiaplah gigit jari karena antrean yang panjang. Mendengar suara anak dan istri barang satu detik pun, menjadi momen paling ditunggu di tengah terputusnya akses komunikasi di penjara.

Jangan bayangkan merayakan lebaran di penjara penuh aneka kuliner dan minuman ringan. Kami, termasuk saya, dalam kondisi prihatin dan menahan lapar. Perut masih kerocongan selepas bangun. Bagi tahanan asli Kotabaru, mereka selalu berharap kerabat membawakan kudapan hari raya ke penjara.

BACA JUGA  Pensiun, Pj Sekda Batola Titip Estafet Tugas

Saya kebetulan tidak punya kerabat di Kabupaten Kotabaru, tepatnya di Pulau Laut Utara– lokasi dimana Rutan Polres Kotabaru berdiri. Alhasil, saya tidak berharap keluarga mengirim makanan ke penjara. Saya pasrah, berharap diberi makanan dari tahanan lain yang masih menerima kiriman makanan dari keluarganya.

Ada satu hal yang sama ketika perayaan lebaran di penjara dan luar penjara. Apa itu? Kami tetap saling silaturahmi. Ya, kami tak melupakan tradisi lebaran sekalipun itu di bui. Yang kurang cuma kuliner, kue kering, dan minuman ringan macam teh, kopi, dan es setrup.

Saling kunjung ke rumah keluarga, kolega, dan tetangga sudah tradisi saat lebaran Idul Fitri. Tapi di penjara, kami saling kunjung silaturahmi ke kamar-kamar sel. Kami saling mendatangi satu per satu tahanan, mengulurkan tangan seraya berucap:“Mohon maaf lahir batin.”

Itulah sebabnya, bagi saya, perayaan Idul Fitri 1441 Hijriah secuil peristiwa perjalanan hidup yang tak bisa dilupakan. Sejarah hidup ketika manusia harus dibelenggu di tengah perayaan hari kemenangan.

Setahun berlalu, saya kembali dipertemukan Idul Fitri 1442 Hijriah ketika raga bebas dan merdeka.Jangan sia-siakan momen lebaran saat raga bebas dan merdeka, sekalipun itu lewat video call atau bertukar pesan. Momen yang sangat sulit ketika Anda di penjara.

Bersyukurlah bisa merayakan lebaran bareng orang-orang terdekat, dan terkasih. Sekalipun saya tidak mudik karena pandemi, sungkem silaturahmi ke orang tua bisa lewat video call. Yang penting niat untuk memohon ridha orang tua, memohon maaf kepada orang tua, istri, dan saudara.

Selamat Lebaran Idul Fitri 1442 Hijriah. Jangan lupa bahagia dan bersyukur atas karuniaNya.

Banjarmasin, 13 Mei 2021,

Diananta Putra Sumedi

BACA JUGA  Wartawan Banjarmasin Desak Pengusutan Pemukulan Wartawan Tempo

CEO banjarhits.com dan eks narapidana pers

Vinkmag ad
Bagikan ini :

admin

Read Previous

Akhir Ramadan, Paman Birin Buka Bersama Habaib

Read Next

Idul Fitri, Ratusan Rumah di Dua Kabupaten Terendam Banjir Kalsel

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *