Larangan Mudik dan TKA Cina Masuk Indonesia

TKA asal Cina. Foto: idxchannel.com

Pemerintahan Jokowi tidak memiliki kepekaan sosial dan merobek-robek sensitivitas warga. Kebijakan ini sungguh tidak bijak. Ini kebijakan di luar nalar akal sehat.

Dualisme Kebijakan itu telah menimbulkan kemarahan rakyat yang merasakan diperlakukan tidak adil di negeri sendiri. Sementara para Tenaga Kerja Asing (TKA) Cina sepertinya mendapatkan perioritas kebijakan yang memberi kesempatan berbondong-bondong datang ke Indonesia atas nama kepentingan ekonomi atau investasi.

Nalar sehat rezim Jokowi telah kehilangan sekedar mengejar kepentingan ekonomi dan atas nama investasi dan kejelasan investasi itu untuk pentingan siapa.

Atas nama kepentingan investasi telah mendeskriditkan keberadaan tenaga kerja lokal yang selalu menganggap tenaga kerja asing lebih berkualitas, lebih unggul dan disiplin. Menurut analisa saya, cara pandangan tidak sesederhana itu.

Lebih jauh, saya memahami bukan saja soal keunggulan sumber daya manusia TKA itu, akan tetapi tidak ada kepentingan lain yang lebih besar yaitu soal penguasaan sumber daya alam (SDA) negeri ini, dan kepentingan politik ekonomi jangka panjang khusus pertarungan kepentingan ekonomi politik nasional dan global.

Kita sangat menyayangkan kebijakan yang tidak bijak dari rezim Jokowi ini. Sumber daya aparatur negara dikerahkan habis-habisan untuk memproteksi atau memblokir warga sendiri untuk tidak pulang kampung berlebaran Idul Fitri untuk menghindari eskalasi Covid. Pada waktu bersamaan sejumlah bandara di negeri ini dapati kedatangan TKA (Cina) sebagai parade tontonan menyakitkan bagi rakyat.

Negeri ini seperti sudah kehilangan martabat atau marwah sebagai negara berdaulat. Kedaulatan negara sudah didikte oleh kekuatan kapitalisme asing dan mempertaruhkan negeri dalam pangkuan hegemoni asing.

Kekhawatiran saya adalah jangan sampai negeri ini menjadi negara Angola dan beberapa negara di Afrika yang telah terperangkap dalam penguasaan ekonomi asing (Cina) karena lilitan hutang yang tidak terkendali lagi. Akibatnya, sejumlah negara di Afirka telah dikendalikan ekonominya dan bahkan sumber daya alam sudah berada dalam pangkuan kekuatan ekonomi Cina ditengah kehidupan ekonomi dan politik negara-negara di Afrika itu mengalami kekacauan politik atau demokrasi (lanck of politics and democracy).

BACA JUGA  Bupati Batola Sampaikan Rapeda Pertanggungjawaban APBD 2020

Situasi seperti ini pun tidak menutup kemungkinan akan terjadi di Indonesia bila kebaikan rezim Jokowi memberikan struktur kesempatan bagi para investor asing yang salah satunya modusnya adalah mengalirnya para TKA menguasai sejumlah industri tambang dan infrastruktur ekonomi di negeri ini.

Cepat atau lambat hal ini pasti akan menjadi kenyataan. Coba kita perhatikan sejumlah industri ekstraktif di sejumlah daerah tenaga kerja nya adalah pekerja asing. Kasus TKA di industri nikel di Morowali Sulawesi tengah dan sejumah daerah lainnya menjadi fakta telanjang.

Kembali kepersoalan larang mudik lebaran bagi warga telah melahirkan kebaikan paradoks. Kebijakan paradoks ini sesungguhnya menggambarkan sebuah realitas sosial, ekonomi, dan pokitik bahwa negeri ini telah dikuasai oleh kekuatan asing.

Sepeti diketahui, sebuah kajian ekonomi politik bahwa Indonesia telah ditempat sebagai wilayah atau negara yang menjadi incaran para kapitalis atau kekuatan ekonomi global karena negeri ini memilik kekayaan sumber daya alam.

Para kapitalis global dengan kekuatan strategi dan desain global akan berusaha menguasai dan merampok melalui regulasi yang dibuat oleh pemerintah. Regulasi yang dibuat pemerintah dan kemudahan berinvestasi menjadi pintu terbuka untuk menguasai sumber daya ekonomi negara di tengah kemiskinan rakyat.

Fenomena kedatangan rombongan TKA di era Covid ini sepertinya tidak berlaku dan larangan itu hanya bagi warga rakyat Indonesia. Negera telah memperlakukan rakyatnya sendiri sebagai sandera dan mereduksi nilai-nilai kewargaan melalui cara-cara kekuasaan.

Fenomena ini seperti ini jangan sampai menjadi akumulasi kemarahan dan mengundang kecemburuan sosial dan bisa saja menjadi ledakan kemarahan. Fenomena memperlakun rombongan TKA bagaikan tamu agung yang memenuhi sejumlah bandara telah mengusik rasa keadilan dan merobek-robek perasaan warga ditengah kerinduan pulang kampung halaman.

BACA JUGA  Alasan Bupati Noormiliyani Fokus Bangun Desa

Pertanyaan yang perlu dikemukakan adalah mengapa disaat menggilanya Covid justru kedatangan rombongan TKA Cina itu semakin massif dan sementara warga diproteksi tidak boleh pulang kampung. Mengapa kebijakan itu hanya berlaku bagi rakyat sendiri sementara bagi TKA tidak berlaku. Ada apa dibalik kebijakan itu? Jangan salah kan rakyat bila memberikan interpretasi spekultif ditengah kebijakan kontrovesial itu.

Oleh karena itu, perlu dievaluasi kembali apakah momen ramainya TKA itu tidak akan menimbulkan persoalan akan datang. Bila hal ini dibiarkan, sekali lagi tidak menutup kemungkinan akan melahirkan konflik sosial dari pada sekedar mengikuti logika kepentingan ekenomi dan investasi semata.

Penulis: M. Uhaib Asad

Dosen FISIP Universitas Islam Kalimantan (UNISKA) Banjarmasin

Vinkmag ad
Bagikan ini :

admin

Read Previous

Agrowisata Talaran Setara Memacu Ekonomi Warga Batola

Read Next

Terkuak, 4 Terduga Pelaku Pembunuhan Suryadi

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *