Catatan Kritis Pilrek: Uniska Dalam Lingkaran Oligarki

Uhaib As'ad

Muhammad Uhaib As’ad., pengajar FISIP Uniska Banjarmasin.

Transisi demokrasi yang terjadi di Universitas Islam Kalimantan (Uniska) Kota Banjarmasin terkait Pemilihan Rektor (PILREK) pada 5 April lalu, telah menorehkan sejarah duka bagi civitas akademika Uniska.

Transisi demokrasi itu sebagai refleksi dari akumulasi praktik oligarki berkepanjangan di kampus berlabel Islam itu. Praktik oligarki berkepanjangan ini terjadi karena mekanisme dan sistem pengelolaan universitas yang tidak merepresentasikan transparansi, akuntabilitas, dan good governance University.

Sebaliknya, yang terjadi justru pola-pola oligarkis dan proses pembiaran selama bertahun-tahun dalam lingkaran sistem carut-marut (system decay) yang dikendalikan secara sistemik oleh tokoh Yayasan Uniska selama empat periode.

Selama dalam kepemimpinan si tokoh, aturan main dan sistem berjalan nyaris tanpa arah yang jelas. Bahkan telah melahirkan para petualang dalam lingkaran kekuasaan dimana beliau sebagai the main of patronage.

Para petualang itu mereposisi diri masuk ke dalam jaringan patronase dan melahirkan para loyalis semu atau dalam studi sosiologi politik sebagai patron-client network.

Jaringan patron-klien terstruktur itu mempertemukan kepentingan dan distribusi kekuasaan yang merambah hampir semua fakultas dan unit-unit lainnya dalam lingkungan Uniska.

Penempatan orang-orang loyalis semu itu pada posisi tertentu sesungguhnya dapat dipahami dengan nalar akademis. Salah satunya adalah untuk memperkuat basis-basis patronase dan klientelisme untuk melanggengkan oligarki kekuasaan.

Salah satu bentuk pelanggengan oligarki kekuasaan adalah mendukung Abdul Malik sebagai calon Rektor Uniska 4 tahun lalu. Tampilnya Abdul Malik sebagai calon Rektor Uniska empat tahun lalu yang bertarung dengan Dr Aam Gunawan yang dimenangkan oleh Abdul Malik.

Kehadiran Dr Aam Gunawan sebagai kandidasi Rektor sesungguhnya tidak lebih sebagai calon Rektor Boneka yang disetting dari pada Abdul Malik melawan kotak kosong.

Seperti diketahui, sepulang Abdul Malik dari Kuala Lumpur, Malaysia, menyelesaikan program doktor pada salah satu universitas di negeri Jiran itu, Abdul Malik ditunjuk sebagai Ketua Lembaga Penjmain Mutu Uniska.

BACA JUGA  Ini 10 Top Inovasi Balangan 2021

Itulah satu-satunya jabatan yang pernah dipegang kemudian lompat mejadi Rektor Uniska. Tidak pernah menjadi wakil dekan, apalagi sebagai dekan. Saya kira ini sebuah lompatan spektakuler yang tidak pernah terjadi sepanjang sejarah Uniska yang sudah berusia 42 tahun.

Bentuk lain dari praktik kekuasaan oligarki di Uniska adalah menjadi seseorang sebagai anak emas yang dipaksakan menjadi salah satu pimpinan fakultas walaupun tidak memenuhi persyaratan secara administratif akademik, dan juga belum pernah memegang jabatan pada level fakultas.

Kekacauan sistemik berkepanjangan ini telah menjadi struktur kesempatan melanggrkan struktur oligakrkis.

Pola-pola oligakis juga terlihat pada praktik kekuasaan di fakultas. Para elite di fakultas berusaha mempertahankan posisi jabatan dan berputar-putar karena tidak adanya distribution of power.

Tidak aneh bila ada yang berkuasa di fakultas sampai menduduki jabatan puluhan tahun dan tidak tergantikan karena berada dalam lingkaran kroni kekuasaan yang saling menguntungkan secara ekonomis.

Praktik carut marut ini sebagai imbas dari sistem busuk dan praktik mesin oligarki yang dibiarkan selama ini. Seperti disebutkan, ada ketokohan sebagai the main of patronage resource dan melahirkan lingkaran oligarki dalam sistem busuk (system academic decay).

Sepeninggal si tokoh beberapa waktu lalu, peta bumi perpolitikan Uniska berubah total. Sumber patronase dan klientelisme tidak ada lagi. Para petualang dan loyalis semu nyaris kehilangan tongkat.

Satu-satunya cara adalah berusaha mereposisi diri mencari patron baru. Gemuruh transisi demokrasi Uniska saat ini turbulensinya semakin terasa. Pendukung Abdul Malik sebagai incumbent kendatipun hanya unggul 5 suara, yaitu Abdul Malik mendapatkan 15 suara dan Dr Sanusi mendapatkan 10 suara dari total 25 suara senat.

Selisih suara tidak otomatis Abdul Malik langsung menjadi Rektor Uniska karena finishing touch-nya ada pada Yayasan Uniska. Apalagi dalam proses Pemilihan Rektor terjadi pratik tidak demokratis dan tidak akuntabel.

BACA JUGA  HUT ke-71 Kalsel, Warga Diminta Taat Prokes

Sebagai misal, terjadi keanehan dan kelucuan pada Panitia Pemilihan (KPU-nya Uniska). Mayotasi panitia adalah anggota senat yang ikut memilih Rektor. Artinya jeruk makan jeruk.

Terjadi konflik kepentingan dan masing-masing bertarung memenangkan kandidatnya. Mayoritas anggota KPU-nya Uniska adalah pendukung Abdul Malik (incumbent). Ini adalah cara-cara oligarkis yang bekerja di universitas berlabel Islami.

Sampai saat ini telah mengundang sejumlah komentar, baik dari internal Uniska maupun dari publik di luar Uniska mengenai kontoversi pemilihan Rektor Uniska yang memiliki 11 fakultas, 24 jurusan, 5 program S2, dan kurang lebih 17 ribu mahasiswa.

Sebagai leading argument carut marut pemilihan Rektor Uniska sebagai akumulasi dari intervensi orang-orang yang Yayasan yang mengaburkan antara wilayah yayasan dan wilayah akademik.

Seperti diketahui, masa jabatan Rektor Abdul Malik akan berakhir pada 28 April. Artinya, bila masa jabatan itu berakhir dan belum ada kepastian siapa yang menjadi Rekor Uniska, maka Uniska mengalami kevakuman kepemimpinan.

Bila dilihat dalam perspektif hukum administrasi negara maka Wakil Rektor UNiSKA akan menjadi Pelaksana Jabatan Sementara (PJS), Dr H Jarkawi.

Penulis: M. Uhaib As’ad

Dosen FISIP Uniska Kota Banjarmasin

Vinkmag ad
Bagikan ini :

admin

Read Previous

Sahbirin Apresiasi Pelantikan Persatuan Purnawirawan TNI AD

Read Next

Kai Digerebek saat Merekap Togel di Warung Pondok

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *