Lasmin Baruya, Budaya Mawarung Asli Bumi Antaludin

Orang mewarung.

Orang-orang yang asyik mewarung. M Rahim/banjarhits.com

Syuting budaya mawarung dikemas dalam acara Lasmin Baruya yang diadakan oleh Kompas Budaya dan Dewan Kesenian Daerah HSS di Museum Rakyat, Kandangan. Sejak pagi jelang siang, para aktor warung telah berkumpul sambil memainkan alat Tradisional dan tersedia hidangan khas lokal.


Diiringi paduan musik panting, babun dan biola, lagu Banjar dinyanyikan oleh Farmawati Amini, ia berperan sebagai Puan Langkar Bapariwantan. Anak dari pemilik warung Lasmin Baruya yakni Rasuna berperan sebagai Acil Diang.


Selain itu ada sosok Muslih Baung, Bima Ramadhan memerankan sebagai lelaki yang kerap merayu Puan Langkar. Dari sisi itu, suasana mawarung dibangun dalam suasana canda tawa. Ada sosok tua bertongkat, H. Baliting yang ditokohkan oleh Hairin Nazrin. Disela obrolan lepas, seniman yang mengenakan peci ini kerap menimpali dengan bahasa pantun Banjar.

“Layu bunga patah tunasnya, jangan dipagar wan tali waja. Ayu kita lawan virus curuna, dangan ikhtiar bersama-sama,” ceplosnya.
Sementara Acil Diang, bergumam (begerunum) sambil menyiapkan aneka makanan khas Kandangan. Dalam peranannya, ia meresahkan seseorang yang belum membayar hutang, yakni isteri dari Tuhirang. Disamping itu, tokoh masyarakat Abah Idang yang diperankan oleh sastrawan Hardiansyah Asmail, selalu menasehati Acil Diang.


Singkat cerita, Lasmin Baruya ini sebuah warung yang mengisahkan para warga berkumpul dalam memperoleh informasi disekitarnya.

Adapun peranan unik lainnya, seperti Amat Mahing (Rahmat Shaleh) memiliki karakter keras kepala, Amin Sandu (Amin Hasan Maulid) sosok yang pendiam, Jamal Jihi (Ismatullah Halim) sering tertawa terbahak-bahak disela obrolan warung, Acu Cadal (Rahman Shaleh) memiliki dialek yang cadel, Arab Bujur (Sajad) dan sosok Pambakal (Dedy Wahyuni).


Rekam sejarah dari pandangan sastrawan Hardiansyah Asmail, Lasmin Baruya salah satu warisan nenek moyang yang cukup lama di Bumi Antaluddin. Menurutnya, sebuah tempat berkreativitas dan menghimpun semua seni yang bermain dalam kegiatan mawarung tersebut. 

BACA JUGA  Perkembangan Covid-19 di Kalimantan Selatan


“Lasmin sendiri diambil dari bahasa Banjar Arkais, artinya warung. Sedangkan makna Baruya, artinya bercanda. Jadi, dinamakan warung bercanda,” ucap Hardiansyah kepada Starbanjar, pada Kamis (24/9/2020) di Museum Rakyat HSS.


Sebagai tamu istimewa yang hadir mawarung, Bupati Hulu Sungai Selatan, Achmad Fikri, turut gembira dalam acara tersebut. Ia mengapresiasi para penggiat seni yang bermain di Lasmin Baruya.


“Kita berharap Lasmin Baruya atau warung-warung ini menjadi tempat berbagi informasi, kita dukung terus dan tetap harus berlanjut. Dan mereka silahkan berkreasi, sampaikan kepada Dinas Pendidikan dan kita fasilitasi. Mudah-mudahan ini menjadi media komunikatif yang baik bagi masyarakat dan pemerintah,” pungkasnya.

Vinkmag ad
Bagikan ini :

diananta putra sumedi

Editor

Read Previous

MTQ Kalsel Tiba-tiba Ditunda Akibat Covid

Read Next

Sudah 10 Tahun Adira Gaungkan Keselamatan Jalan melalui IWGHS

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *