PSU, Ruang Publik, dan Kewarasan Demokrasi

Ilustrasi Pilkada 2020. Foto: istimewa

Fenomena menggelikan setelah keluarnya keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) mengenai perlunya Pemilihan Suara Ulang (PSU) di Kalimantan Selatan. Seiring keputusan MK itu gemuruh kampanye gelap telah mewarnai ruang publik secara bebas tidak terbendung lagi.

Ruang publik menjadi arena erotisme politik dilakukan para buzzer dan influencer bayaran yang bertujuan saling menjatuhkan para petarung pada 9 Juni datang.

Seperti kita ketahui bahwa PSU di Kalimantan Selatan sebagai imbas dari praktik gelap dan culas pada Pilkada Gubernur 9 Desember 2020 lalu yang melibatkan oknum aparat Pilkada. Gemuruh kampanye gelap oleh orang-orang tidak bertanggung jawab itu sebagai strategi untuk menghinakan para pasangan atau kandidat.

Celakanya, strategi hitam dan tidak bermoral itu sesungguhnya telah terbaca oleh warga Kalsel bahwa hal itu adalah cara-cara permainan politik kotor dan justru tidak membuat simpatik warga. Warga Kalsel tidak selamanya berada dalam struktur feodalisme dan fanatisme politik berlebihan juga memiliki rasionalitas politik.

Faktanya, proyek bagi-bagi politik uang tidak sedahsyat pada Pilkada sebelumnya. Praktik politik uang pada Pilkada 9 Desember lalu sudah berkurang walaupun masih terjadi di beberapa lokasi tertentu. Artinya, warga Kalsel sudah memilik tingkat literasi politik dan kesadaran politik yang mulai berkembang di tengah kapitalisasi demokrasi.

Tingkat literasi dan rasionalitas politik warga yang sudah mulai maju itu perlu dirawat di diedukasi secara baik bukan dibombardir dengan dengan pola-pola culas, kampanye hitam, dan ketidakwarsan berdemokrasi.

Hal ini sangat penting. Mengapa? Pertama, calon pemimpin Kalsel adalah hasil pilihan warga Kalsel melalui pilihan rasional dan bermartabat bukan hasil produksi cara-cara kriminal dan mafia demokrasi. Kedua, biarlah PSU itu menjadi laboratorium dan pertobatan politik dari oknum aparat Pilkada yang terlibat dalam praktik gelap dan culas.

BACA JUGA  Solidaritas Pangan Tolak Penghargaan dari Kemenpan RB

Ketiga, biarkanlah warga menentukan pilihannya secara rasional bukan dimobilisasi masuk ke dalam sampah politik busuk. Keempat, apapun modus kampanye hitam itu tidak akan merubah pilihan politik warga dan bahkan akan melipatgandakan kenyinyiran terhadap para buzzer dan Influencer itu.

Warga Kalsel merindukan sebuah perubahan dalam sistem kekuasaan, kekuasaan politik, ekonomi dan pembangun lebih berkualitas dengan modal sumber daya alam kaya. Tentu saja untuk mewujudkan impian mimpi itu seorang pemimpin yang berkualitas, berintegritas, dan memiliki kemampuan kepemimpinan.

Kemampuan kepemimpinan menjadi poin utama untuk mewujudkan tata kelolah pemerintahan (good governance). Untuk mewujudkan good governance harus dimulai dari proses demokrasi berkualitas. Demokrasi berkualitas akan terwujud bila para elite politik memiliki kewarasan politik dan mendidik warga melalui instrumen demokrasi yang ada seperti partai politik dan instrumen demokrasi lainnya.

Sebaliknya, bila dalam proses demokrasi (Pilkada dan PSU) di Kalsel dilakukan dengan cara culas dan kampanye gelap justru hanya memproduksi demokrasi demagog atau membabtis calon pemimpin hasil persekongkolan gelap dan pada akhir nya akan menjadikan kekuasaan sebagai arena berburu rente (rent-seekers).

Hal ini tidak menutup kemungkinan. Seperti kita ketahui dari beberapa hasil penelitian bahwa maraknya praktik korupsi dan abuse of power yang berujung masuk penjara sejumlah pejabat adalah sebagai imbas dari memperdagangkan jabatan. (Trading of Influencer) kepada pengusaha atau para cukong Pilkada.

Sekali lagi, fenomena akhir-akhir ini kita menyaksikan praktik kampanye hitam. Ruang publik detik perdetik diinjeksi ketidakwarasan berdemokrasi dan lakon-lakon menggelikan. Kewarasan berdemokrasi di negeri ini telah tereliminasi oleh ketidakwarasan dan libido kekuasaan berlebihan.

Modus-modus gelap itu didesain sedemikian indah dan menarik di altar ruang publik sembari penghuni ruang publik itu nyinyir tertawa termehek-mehek. Selamat menikmati Edisi Galau PSU. Salam waras dan merdeka bemokrasi bagi warga Kalimantan Selatan.

BACA JUGA  Bayi Masih Bertali Pusar Ditemukan di Masjid Al-Amin

Penulis: M. Uhaib As’ad

Dosen FISIP Universitas Islam Kalimantan (Uniska) Banjarmasin

Vinkmag ad
Bagikan ini :

admin

Read Previous

Dinamika Teddy-Benny Terpilih Jadi Ketua-Sekretaris AJI Balikpapan

Read Next

Polres Kotabaru Setop Pelaporan Dugaan Fitnah Lewat ITE

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *