Walhi Kalsel Minta Pemda Perbaiki Mitigasi Bencana

Rumah rusak akibat longsoran di Komunitas Balai Adat Cabai, Kecamatan Hantakan, Kabupaten HST. AMAN Kalsel

Direktur Walhi Kalimantan Selatan, Kisworo Dwi Cahyono, mengatakan pemerintah daerah mesti memperbaiki mitigasi bencana pasca banjir besar di Kalimantan Selatan. Menurut dia, Kalsel perlu mitigasi bencana mengingat mayoritas wilayah provinsi itu dibebani tambang, sawit, dan HPH.

“Daya tampung dan daya dukung lingkungan di Kalsel sudah parah. Dalam hal penanganan bencana, anggaran harus dinaikkan, terutama untuk lingkungan. Misalkan dalam hal pendidikan kan sudah dipatok 20 persen. Untuk lingkungan minimal 20 persen,” kata Kisworo pada Minggu (24/1/2021).

Ia melihat pemerintah daerah masih lambat dan gagap dalam hal deteksi dini merespons bencana alam, seperti banjir besar di awal 2021 yang merendam 11 kabupaten/kota se-Kalsel.

Ia mempertanyakan apakah alat pengukur tinggi muka air sudah lengkap, dan tahapan penentuan siaga dan tanggap darurat. Menurut dia, status siaga mestinya ada beberapa level, sebelum tanggap darurat. Kisworo pernah melihat masih banyak logistik menumpuk di BPBD saat banjir sudah merendam.

Selain itu, menurut dia, setiap kabupaten/kota ada stasiun atau titik untuk mengukur tinggi muka air. “Tahun ini, pemerintah tidak siap dan terkesan gagap, baik dalam peringatan dini, penentuan status kondisi bencana, dan dalam hal penanggulangan bencana,” ujar Kisworo.

Selain mengacu data BMKG, perlu pula alat-alat yang mengukur parameter secara valid untuk peringatan dini bencana. Ia mendesak pemerintah menyiapkan masyarakat yang tanggap atas bencana di Kalsel. Sebab, Kalsel sudah darurat ruang ekologis yang memicu banjir saat hujan dan kebakaran lahan saat kemarau.

“Tidak sekedar menyalahkan hujan. Memang akar masalahnya review perijinan, audit, dan tegakkan hukum. Muaranya bentuk Komisi khusus kejahatan lingkungan dan SDA, dan pengadilan lingkungan,” ujar Kisworo.

Data terakhir yang dirilis BPBD Kalsel pada 24 Januari 2020, banjir merendam 330 sekolah, 121 tempat ibadah, 116.041 rumah terendam, jembatan 75, dan jalan raya 906.840 kilometer. Korban meninggal 21 orang dan korban hilang 1 orang.

BACA JUGA  Pelaku Penipuan Warga HSU Ditangkap Di Muara Teweh

Lahan sawah terdampak pada 10 kabupaten seluas 36.235 hektare; dan pembudidaya ikan terdampak banjir 8.817 orang dengan kerugian Rp 93.680.535.600.

Vinkmag ad
Bagikan ini :

diananta putra sumedi

Editor

Read Previous

Malam Hari, Sahbirin Terus Tebar Bantuan Korban Banjir

Read Next

Pemuda Batola Kirim Bantuan ke Jejangkit

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *