Siapa Kisworo? Lantang soal Banjir Kalsel

Kisworo (kiri) saat menjenguk saya di Rutan Polda Kalsel. Istimewa

Nama Kisworo Dwi Cahyono akhir-akhir ini membetot perhatian publik di tengah bencana banjir Kalimantan Selatan. Dua hari lalu, Kisworo menyinggung sikap Presiden Joko Widodo karena menyalahkan curah hujan sebagai biang kerok banjir besar di Kalsel.

Dikutip dari situs Tempo.co pada 18 Januari lalu, Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Kalimantan Selatan Kisworo Dwi Cahyono meminta Presiden Joko Widodo atau Jokowi tidak menyalahkan curah hujan sebagai penyebab banjir Kalsel.

“Kalau hanya menyalahkan hujan mending enggak usah ke sini,” kata Kisworo. Kisworo menilai kedatangan Jokowi ke lokasi banjir Kalsel semestinya menjadi momen untuk berani memanggil pemilik perusahaan tambang, sawit, hutan tanaman industri (HTI), dan hak pengusahaan hutan (HPH).

“Dan kita dialog terbuka di hadapan rakyat dan organisasi masyarakat sipil,” ujarnya, masih dikutip dari Tempo.co.

Bagi saya, Kisworo memang punya kapasitas mumpuni menjelaskan bencana banjir dan tanah longsor di Kalsel. Ia menduduki Direktur Walhi Kalimantan Selatan, organisasi masyarakat sipil yang sudah punya reputasi mengawal tata kelola lingkungan hidup.

Pertambangan, kebun sawit, pencemaran lingkungan, dan konflik agraria selalu menjadi topik menarik saat ngobrol dengan Kisworo. Yang paling khas dari Kisworo adalah rambut panjang dan topi kelir hitam bertuliskan #SaveMeratus.

Kemanapun ia melangkah, topi itu seperti tak pernah lepas dari kepalanya. Kisworo ingin menggaungkan komitmen penyelamatan Meratus pada setiap orang yang ditemui.

Kisworo, saya, dan Reza di atas kapal penyeberangan Selat Laut, setelah menjemput di Rutan Polres Kotabaru.

Di kalangan sesama aktivis dan wartawan, Kisworo sering dipanggil Cak Kiss. Sepanjang yang saya kenal, Kisworo berkomitmen kuat atas tata kelola lingkungan hidup. Sebelum menjabat Direktur Walhi Kalimantan Selatan, ia pernah menggawangi Yayasan Cakrawala Hijau Indonesia. Beberapa bulan lalu, Kisworo terpilih kedua kali sebagai Direktur WALHI Kalsel secara aklamasi.

BACA JUGA  Warga Demo DPRD Kalsel soal Mobil Dinas Lexus

Saya sendiri sering berinteraksi dengan Kisworo secara personal. Kami membincang isu-isu lingkungan hidup di Kalsel. Kebetulan, saya pernah dibui di Rutan Polda Kalsel dan Rutan Polres Kotabaru gara-gara sengketa karya jurnalistik yang berujung pidana.

Saya dipenjara di Rutan Polda Kalsel pada 4 Mei-20 Mei 2020, dan Rutan Polres Kotabaru pada 20 Mei-17 Agustus 2020. Ketika saya dipenjara di Rutan Polda Kalsel, Kisworo bersama beberapa kawan aktivis dan wartawan menjenguk saya. Kepada saya, Kisworo ingin memastikan diriku baik-baik saja, tidak berkurang sedikit pun anggota tubuhku.

Kekhawatiran macam ini sangat beralasan, mengingat kasusku melibatkan orang besar. “Saya ingin memastikan gigi om Nanta utuh, mata utuh, rambut utuh. Tidak kurang sedikit pun. Maka saya memaksa ingin ketemu om Nanta,” begitu kira-kira ucapan Kisworo yang saya ingat ketika menjenguk diriku di penjara.

Saat itu, saya masih berambut panjang. Mirip dengan Kisworo yang sampai saat ini masih betah gondrong. Bagi saya, rambut panjang itu simbol perlawanan.

Kunjungan mereka sebagai bentuk solidaritas dan dukungan moral terhadap saya. Cak Kiss dan kawan seperjuangan, selalu mendesak agar saya dibebaskan tanpa syarat. Sebagai tahanan, saya sangat senang dijenguk kolega. Hiburan sesaat di tengah kejenuhan di penjara.

Petugas jaga rutan memang memperketat kunjungan besuk ke tahanan di tengah pandemi Covid-19. Sangat wajar jika Kisworo dan kawan-kawan begitu ngotot ingin menjenguk diriku. Saya dipenjara setelah menulis sengketa lahan antara masyarakat dan perusahaan kebun sawit di Kabupaten Kotabaru. Kasus ini sejatinya sudah selesai di Dewan Pers.

Pertemuan kedua saat saya sidang putusan di Pengadilan Negeri Kelas II Kotabaru, 10 Agustus 2020. Kisworo dan kolega ikut hadir di ruang sidang untuk memberi dukungan moral. Ketukan palu hakim menjatuhkan vonis pidana 3 bulan 15 hari terhadap saya. Saya pikir-pikir atas vonis tersebut.

BACA JUGA  Warga Kirim 3 Sampel Dugaan Pencemaran Sungai Sebamban

Sehari setelah sidang, Kisworo, kawan-kawan, dan istriku melipir ke Mapolres Kotabaru untuk menjenguk diriku. Namun, hanya istriku saja yang boleh menemui diriku. Itupun cuma dikasih kesempatan 15 menit, setelah membawa surat pengantar dari PN Kotabaru.

Setelah berdiskusi dengan kawan dan istri, saya akhirnya menerima vonis hakim PN Kotabaru. Divonis tanggal 10 Agustus, saya bebas dari bui pada 17 Agustus 2020, tepat Hari Kemerdekaan RI Ke-75. Saat itu, saya dijemput istriku Wahyu Widiyaningsih, Ahmad Syairani, M Rahim, Reza, dan Kisworo.

Kami membentang bendera Merah Putih di ruang penjagaan rutan, sebelum pulang ke Banjarmasin. Kami pulang menumpang mobil milik Kisworo. Tentu, saya sangat beruntung dijemput Kisworo, istriku, dan kawan yang segaris seperjuangan.

Kisworo, kawan-kawan aktivis, mahasiswa, serta sebagian wartawan juga aksi demonstrasi damai di Banjarmasin dan Banjarbaru atas kasusku.

Kawan-kawan dan istriku menjemput saya di Rutan Polres Kotabaru, 17 Agustus 2020.

Kisworo paling keras menyalak melihat rambutku digundul, setelah tahu lewat foto yang beredar. Saya difoto petugas saat pemeriksaan kesehatan, lima hari setelah masuk Rutan Polres Kotabaru. Foto diriku tersebar ke tangan kawan-kawan di Koalisi Masyarakat Adat dan Kebebasan Pers.

Setelah saya bebas, Kisworo bilang bahwa penggundulan rambut secara paksa termasuk pelanggaran HAM. Maka, ia paling keras mengecam penggundulan rambutku. Maklum, rambutku tak pernah disentuh petugas jaga ketika di Rutan Polda Kalsel.

Lima bulan setelah saya bebas dari penjara, bencana banjir mengepung Kalsel pada medio Januari 2021. Kisworo lagi-lagi tampil lantang melihat banjir hebat di awal tahun ini. Dalam waktu bersamaan, banjir merendam 11 kabupaten/kota di Kalsel, minus Tanah Bumbu dan Kotabaru. Sejarah banjir paling brutal di Kalimantan Selatan.

Data terakhir yang dirilis BPBD Kalsel pada Rabu (20/1/2021), banjir menewaskan 21 orang dan 6 orang masih hilang. Banjir juga merendam 110 tempat ibadah, 76 sekolah, 66.768 rumah, 21 jembatan, dan 18.294 kilometer jalan.

BACA JUGA  Pegiat Lingkungan Tanam Pohon di Goa Marmer

Warga terdampak banjir sebanyak 120.284 KK, 342.987 jiwa, dan 63.608 orang mengungsi. Masyarakat terus menyalurkan bantuan ke korban banjir, salah satunya ke daerah terparah di Barabai, Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Saya yakin cobaan bencana ini makin menguatkan solidaritas warga Kalimantan Selatan. Tabik.

Kisworo san kawan-kawan menjemput di Rutan Polres Kotabaru.

Vinkmag ad
Bagikan ini :

diananta putra sumedi

Editor

Read Previous

Sahbirin Rela Dorong Jukung Logistik Korban Banjir

Read Next

Alasan Disdukcapil Tanbu Buka Lagi Layanan Publik

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *