Kalimantan Selatan Meradang Dikepung Banjir

banjir barabai

Genangan banjir di Kecamatan Barabai, Kabupaten HST pada Kamis (14/1/2021).

Sejarah banjir di Kalimantan Selatan (Kalsel) baru saat ini paling parah. Situasi banjir semakin memprihatinkan dan menyebar hampir seluruh kabupaten di Kalsel. Inilah realitas banjir terparah dalam sejarah banjir.

Kepungan banjir saat ini telah melibas areal pertanian dan sumbe-sumber perekonomian warga. Derasnya curah hujan hampir tiap hari bumi Kalsel nyaris tidak mampu lagi menampung debit air di tengah kepanikan warga.

Warga dengan caranya masing-masing berusaha menyelamatkan harta benda dengan peralatan seadanya. Pemandangan seperti sudah berlangsung beberapa hari. Infrastruktu jalan dan fasilitas lainnya tidak luput dari terjangan banjir.

Musibah banjir hadir di tengah kepanikan warga melawan Virus Corona semakin melipat-gandakan kepanikan. Menghadapi situasi kepanikan dan darurat banjir ini warga berharap hadirnya negara sebagai institusi mengurai kepanikan dari kepungan banjir ini.

Persolan banjir di Kalsel ini sama saja dengan persoalan kebakaran hutan. Kepungan banjir dan kepungan asap kebakaran hutan bukan hadir dari ruang hampa. Bukan persoalan berdiri sendiri.

Faktor dominan ada di tangan manusia sebagai antroposentrisme (manusia sebagai pengendali kehidupan bumi, melestarikan dan menghancurkan bumi). Manusia adalah sebagai pengendali peradaban bumi dan penghancur bumi.

Semua ini secara jelas telah diabadikan dalam kita suci Al-Qur’an dan Sunnah Nabi. Disini berlaku hukum kausalitas sejarah antara kebaikan, kejahatan, dan keserakahan ummat manusia. Dalam perspektif ekonomi politik misalanya, perilaku antara kebaikan dan kejahatan, serta keserakahan ini beda-beda tipis. Antara kebenaran dan kejahatan para meternya telah kabur.

Memahami kepungan Banjir ini bisa saja setiap orang membangun argumen menurut perspektifnya masing-masing. Bagi yang berpandangan bahwa kepungan banjir di Kalsel saat ini adalah karena besarnya curah hujan dan faktor perubahan cuaca ektrim yang memproduksi potensi hujan lebat.

BACA JUGA  Safrizal Optimis Lahan Kritis di Kalsel Terus Berkurang

Artinya, leading argument disini menegaskan bahwa kehadiran banjir tidak ada intervensi tangan manusia tetapi faktor alam atau natural. Curah hujan lebat dan perubahan cuaca ekstrim menjadi variabel penjelas dalam memahami situasi Banjar ini.

Aktivitas pertambangan.

Sementara itu, pandangan lain memahami musibah banjir itu selain karena faktor derasnya hujan dan perubahan cuaca ekstrim, faktor dominan lainnya adalah karena ulah keserakahan dan kerakusan manusia mengeksploitasi sumber daya alam habis-habisan.

Eksploitasi dan pengerukan sumber daya alam berlangsung puluhan itu menjadi faktor dominan penyebab semua ini. Bumi juga punya roh (soul) seperti manusia. Kita bumi eksploitasi secara serakah maka akan memberikan dampak bagi kehidupan bagi manusia.

Kasus beberapa negara di Afrika dan Amerika Latin, seperti ditulis oleh Jeffery W dalam bukunya Escaping Natural Resources Curse ( Berkelit dari Kutukan Sumber Daya Alam).

Secara jelas Jeffery menguraikan bahwa, ketika sumber daya alam diperlakukan secara tidak adil dan melampaui kapasitasnya, cepat atau lambat sumber daya alam itu akan menjadi kutukan (curse) bukan menjadi berkah (blessing) bagi umat manusia.

Kalsel sebagai daerah kaya sumber daya alam, khususnya tambang batubara dan kelapa sawit. Atas nama pendapat asli daerah (PAD) dan kalkulasi ekonomi bisnis semata.

Persolan kerusakan lingkungan dan marginalisasi warga lokal tidak menjadi prioritas. Persoalan reklamasi dan tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) masih menjadi persoalan dan tema debat seksi bagi calon kepala daerah di Kalsel.

Sulit dihindari bahwa tema-tema sumber daya alam atau industri ekstraktif menjadi isu seksi dalam sebat-debat kampanye politik. Sumber daya alam kaya di Kalsel ini sejatinya menjadi berkah bersama bagi warga Kalsel tapi faktanya tidak demikian.

Sumberdaya alam dan penggundulan hutan akibat ekspansi industri tambang dan kelapa sawit menjadi hikayat sedih bagi warga Kalsel. Sungguh, sulit untuk menghindari bangun narasi publik bahwa apa yang terjadi saat ini tidak terlepas proses bekerjanya industri tambang dan kelapa sawit dimana lahan-lahan, bumi dan alam sekitarnya tidak mampu lagi menyerap curah hujan.

BACA JUGA  2 Guru Honor Korban Kebakaran di Banjarmasin Terima Bantuan

Perjumpaan variabel antara curah hujan lebat, perubahan cuaca ekstrim dan faktor keserakahan serta kerakusan itu menjadi argumen yang bisa menjelaskan fenomena banjir itu.

Pilkada dan Politik Marketing

Bila kita mengamati dalam debat politik beberapa waktu lalu, isu sumberdaya alam menjadi tema paling seksi. Isu sumberdaya alam menjadi episentrum bertemu para aktor dan kepentingan lainnya.

Dokumentasi debat publik Cagub – Cawagub Kalsel di studio TVRI Kalsel, Sabtu malam (28/11/2020).

Secara teoritis, untuk kasus Kalsel, menguasai sumber daya ekonomi lokal harus menguasai sumber daya politik lokal Kalsel. Bertemunya aktor politik dan aktor bisnis akan membentuk jaringan patronase politik dan bisnis.

Jaringan kepentingan politik dan bisnis saling menyandera (to embrace each other). Oleh karena itu, terkait persolan regulasi pengelolaan sumber daya alam sudah pasti saling menguntungkan para aktor. Regulasi itu akan selamanya ditulis oleh para pemenang atau para penguasa.

Warga Kalsel, siapa pun pemenang Pilkada Gubernur Kalimantan Selatan, wajib menagih janji dari janji-janji politik para kandidat. Persoalan banjir tahunan demikian pula kebakaran hutan berkaitan erat dengan kebjikan atau regulasi yang dibuat pemegang kekuasaan.

Inilah ujian terberat para kepala daerah yang terpilih dalam Pilkada. Masyarakat tidak perlu lagi diajak menghayal dalam ruang abstrak. Banjir telah menjadi fakta yang lahir bukan dari ruang hampa tapi dampak dari sejumlah faktor. Salah satu faktornya adalah dari kebijakan ekonomi politik.

Para politisi lokal, partai politik, dan seluruh komponen warga Kalsel, termasuk para akademisi, perguruan tinggi, sudah saatnya duduk bersama memperbincangkan secara solutif dan collaborative governance antara lembaga swasta dan pemerintah. Nah, saat ini paling afdol para politisi bila mau membangun politik pencitraan bukan saja pada saat menjelang Pilkada atau Pileg.

Penulis: Muhammad Uhaib As’ad

BACA JUGA  Update Covid-19 Batola: 10 Sembuh dan 3 Positif Baru

Direktur Pusat Studi Politik dan Kebijakan Publik Banjarmasin

Vinkmag ad
Bagikan ini :

admin

Read Previous

Gubernur Sahbirin Noor Disuntik Vaksin Covid-19

Read Next

Gempa Majene Terasa Hingga Pulau Laut Kotabaru

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *