Banjir Kalsel Dipicu Kejahatan Korporasi Tambang

Benih padi diamankan dari rendaman banjir di Desa Sungai Batang, Banjar pada Selasa (12/1/2021). SPI Kalsel

Bencana banjir masih menggenangi beberapa wilayah di Kalimantan Selatan pada Rabu (13/1/2021). Banjir tahunan ini makin melumpuhkan aktivitas perekonomian warga Kalsel di tengah pandemi Covid-19.

Pakar kebijakan publik dan politik dari Universitas Islam Kalimantan (Uniska) Banjarmasin, Muhammad Uhaib As’ad, menyoroti bencana banjir yang tidak berkesudahan di Kalsel. Menurut Uhaib, banjir yang merata hampir seluruh kabupaten/kota di Kalsel mengganggu perekonomian warga.

“Akibat banjir dengan eskalasi yang tinggi. Pejabat daerah, baik gubernur, bupati, dan kepala dinas terkait, tidak pernah jujur bahwa inilah dampak eksploitasi tambang dan penggundulan hutan,” kata M Uhaib As’ad kepada banjarhits.com, Rabu (13/1/2021).

Uhaib menegaskan praktek eksploitasi sumber daya alam puluhan tahun memicu bencana di tengah masyarakat luas. Ia menyesalkan pemerintah daerah menolak jujur bahwa banjir akibat pertambangan dan deforestasi. Uhaib pun tak sungkan menyebut banjir dampak dari kejahatan korporasi tambang.

Menurut dia, pejabat daerah selalu berkelit bahwa banjir akibat tingginya instensitas hujan. “Ini logika yang dipelihara selama puluhan tahun. Mana ada pejabat yang mau jujur? Kebohongan inilah yang dipelihara terus menerus,” ucap Uhaib As’ad.

Ia melihat pemerintah daerah berfokus pada eksploitasi SDA demi mendongkrak ekonomi, tanpa melihat dampak sosial, lingkungan, marginalisasi, dan tergusurnya masyarakat dari tanah mereka. Secara keseluruhan, kata Uhaib, industri ekstraktif berdampak buruk terhadap masyarakat di Kalsel.

Relawan membantu korban banjir di Kabupaten Tanah Laut, Senin (11/1/2021).

Dalam sejumlah literatur dan teori ihwal industri tambang, Uhaib belum menemukan bahwa inudstri tambang jadi berkah (blessing). “Justru menjadi kutukan. Tambang tidak mensejahterakan masyarakat, baik secara teori dan literatur. Bisa saja sumber daya alam justru jadi kutukan,” tegas Uhaib As’ad.

Itulah sebabnya, kata Uhaib, momen Pilkada Kalsel 2020 mestinya sebagai ajang instropeksi bagi masyarakat Kalsel untuk memilih pemimpin yang mumpuni. Ia mengkritik pola pencitraan pejabat yang turun ke lokasi banjir, tanpa memperbaiki tata kelola lingkungan yang baik.

BACA JUGA  2 Pengedar Narkoba Ditangkap di HST

Ketua Serikat Petani Indonesia (SPI) Kalsel, Dwi Putra Kurniawan, berkata banjir di Kabupaten Banjar dan Tanah Laut menerjang dan menenggelamkan lahan pertanian pangan. Banjir ini, kata dia, pasti merugikan para petani, terutama produk pangan seperti padi dan hortikultura.

“Berdasarkan data laporan sementara sampai tanggal 12 Januari 2021 yang kami terima dari anggota Serikat Petani Indonesia di 2 kabupaten tersebut, kerugian mereka di lahan pertaniannya ada yang mulai Rp 4 juta sampai Rp 10 jutaan per petani akibat banjir ini,” kata Dwi Putra Kurniawan, Rabu (13/1/2021).

Kalkulasi angka ini belum termasuk kerugian di tempat penyimpanan benih padi dan produk hortikultura di rumah-rumah petani yang terendam banjir. Sehingga, kata dia, para petani harus gotong royong merelokasi benih padi ke tempat yang lebih tinggi atau aman dari banjir.

Dwi mencontohkan benih padi yang terendam air di Desa Sungai Batang dan Desa Penggalaman, Kecamatan Martapura Barat, Kabupaten Banjar. Di sana, kata dia, benih padi milik petani terpaksa segera dijual kepada pengepul untuk menghindari kerugian yang lebih parah akibat banjir.

Menurut dia, mayoritas anggota petani SPI di desa tersebut menyampaikan bahwa benih bibit padi untuk proses masa tanam tahun 2021 yang biasanya mulai dilakukan pada bulan April-Mei nanti tidak ada lagi. “Karena rusak terendam ataupun terpaksa dijual sesegera mungkin,” lanjut Dwi Putra.

Vinkmag ad
Bagikan ini :

diananta putra sumedi

Editor

Read Previous

Banjir Kalsel, Petani Jual Rugi Benih Padi

Read Next

Warga Kalsel Diminta Waspada Buaya saat Banjir

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *