Prison Break: Buku yang Tertunda ke Penjara

Dua novel kiriman istriku ke penjara. banjarhits.com

Hari masih pagi ketika saya dipanggil petugas jaga Rutan Polres Kotabaru. Kepada saya, si petugas mengabarkan bahwa istriku baru saja hendak besuk, tapi ditolak. Kata petugas, istri saya ingin mengirimkan buah tangan berisi buku dan makanan.

Aku menduga istriku lupa tidak membawa surat besuk dari Pengadilan Negeri Kelas II Kotabaru. Istriku sepertinya paham apa yang dibutuhkan untuk mengusir jenuh di balik terali besi. Buku. Benda ini sangat berguna di penjara. Sumber asupan ilmu dan hiburan di tengah kejenuhan manusia yang diterungku.

Buku menjadi bacaan mengisi waktu luang menanti hari-hari panjang pintu kebebasan itu dibuka. Beberapa hari setelahnya, istriku kembali lagi ke penjara seraya membawa selembar surat keterangan besuk dari Pengadilan Negeri Kelas II Kotabaru.

Khusus tahanan seperti saya, siapapun yang ingin besuk wajib mengantongi surat izin dari PN Kotabaru. Begitu rumit untuk menemui saya di penjara. Surat besuk ini cuma berlaku sehari, tidak bisa dipakai berulang kali. Waktu tempuh rutan – PN Kotabaru 20-an menit.

Istriku, Wahyu Widiyaningsih, mengirimkan dua buku bacaan novel ke penjara. Saya sejatinya tak pernah minta dikirimkan buku bacaan. Pengiriman buku bacaan itu atas inisiatif istriku untuk menemani saya mengisi waktu luang di penjara.

Sebelum dua buku ini mampir ke tanganku, saya memang pernah berkirim pesan ke istriku. Pesan itu saya tulis pada selembar sobekan kertas. Lewat surat ini, saya minta dibelikan beberapa donat dan teh kotak ke penjara.

Saya menitipkan secarik kertas itu ke petugas jaga untuk difoto, lalu dikirimkan ke nomor WhatsApp istriku. Saya kaget kenapa istriku begitu cepat datang ke Polres Kotabaru. Usut punya usut, istriku belum kembali ke Banjarmasin, tapi masih bertahan di Kotabaru.

BACA JUGA  Gubernur Sahbirin Puji Program Batola Setara

Perjumpaan hari berikutnya, istriku berhasil membawakan dua buku novel yang berujudul Di Batas Pelangi dan Sang Juragan Teh. Setelah diperiksa penjaga, buku dan makanan itu akhirnya saya terima.

Memasukkan buku bukan perkara sepele ke penjara. Saya pernah pesan buku tulis 3 kali ke tahanan pendamping. Tiga kali pula pesanan buku tulis itu gagal masuk ke bui. Baru pesanan keempat, saya menerima buku tulis seharga Rp 15 ribu.

Setiap sore, tahanan pendamping biasa keliling menemui tahanan-tahanan yang hendak belanja macam mi instan, alat mandi, dan kebutuhan lain. Saya pesan buku dan bolpoin.

Pesan tulisan tangan dari seorang tahanan di Rutan Polres Kotabaru. banjarhits.com

Entah kenapa saya begitu sulit mendapat buku tulis. Padahal, duit sudah dibayar dimuka, sekalipun uang itu dikembalikan lagi ke saya ketika pesananku tak sampai.

Saya mengambil hikmah bahwa buku tulis yang cuma berupa lembaran-lembaran putih nyatanya tergolong barang yang sulit masuk ke bui. Profesiku sebagai wartawan, barangkali, menjadi pertimbangan tersendiri.

Lewat buku tulis, saya bisa menulis catatan harian untuk mengisi waktu luang. Sadar sulitnya buku tulis masuk penjara, seorang tahanan kasus UU Informasi dan Transaksi Elektronik, Despianoor Wardani, bahkan bersiasat menulis catatan harian di sobekan kertas nasi bungkus.

Despi telaten menyobek kecil-kecil kertas nasi bungkus, lalu diikat karet. Despi rutin menulis catatan harian. Catatan harian ini sebagai rekaman tertulis ketika narapidana keluar dari bui.

Buku-buku Laris di Penjara

Mayoritas tahanan berubah perilaku ketika dipenjara. Mereka rata-rata doyan baca buku apa saja. Maklum, baca buku mengisi waktu luang, selain main catur, ngerumpi, bikin kerajinan tangan, dan tiduran.

Selain novel kisah cinta dan rumah tangga, buku yang beredar di penjara bertema keagamaan. Kami membaca buku-buku keagamaan untuk menguatkan iman dan pengetahuan agama. Di penjara, fisik buku-buku biasanya cepat rusak, kucel, dan robek akibat banyaknya yang pinjam buku.

BACA JUGA  Bupati Batola Sampaikan Rapeda Pertanggungjawaban APBD 2020

Maklum, setiap tahanan berbeda-beda cara memperlakukan buku. Ada tahanan yang sangat hati-hati menjaga buku pinjaman. Adapula tahanan yang sembrono atas buku bacaan itu. Itulah sebabnya, saya meminta tahanan yang pinjam dua novel kiriman istriku, agar hati-hati.

Saya berpesan ke tahanan terakhir yang baca agar tidak meminjamkan ke tahanan lain, sebelum izin ke saya. Ini penting agar saya tahu posisi terakhir buku dan siapa yang baca. Jika tak cerewet dikit, dua novel ini bakal lenyap entah kemana ujungnya.

Dua novel yang dikirimkan istriku banyak diburu tahanan lain untuk dibaca. Dua orang tahanan peminjam novel Sang Juragan Teh, bahkan menulis catatan di lembaran belakang buku itu. Namanya Zulhaidir, tahanan kasus narkoba; dan M Rafi Fathan Kamil.

Zulhaidir sosok yang gemar baca buku di penjara. Doi banyak mengoleksi buku-buku bertema agama. Di buku novel Sang Juragan Teh, Zulhaidir menulis pesan moral yang ditujukan ke saya. Isi pesannya: “TRIMS… BUNG NANTA. KENYATAAN YG PAHIT IBARAT MENELAN PIL PAHIT… NISCAYA DATANG KEBAIKAN.”

Diananta P Sumedi

CEO banjarhits.com dan eks narapidana pers

Vinkmag ad
Bagikan ini :

admin

Read Previous

Jangan Cemas Alergi Vaksin Covid-19

Read Next

Serikat Petani Kalsel Rilis Harga Komoditas Pertanian

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *