3 Wartawan Vietnam Divonis 11-15 Tahun Penjara

Tiga wartawan Vietnam yang divonis penjara 11 – 15 tahun.

Pengadilan Vietnam pada Selasa memvonis tiga jurnalis lepas, salah satunya pendiri Asosiasi Jurnalis Independen Vietnam, yang dikenal karena kritik mereka terhadap pemerintah dengan hukuman penjara antara 11 dan 15 tahun penjara.

Pengadilan Ho Chi Minh menyatakan mereka bersalah menyebarkan propaganda anti-negara.

“Pham Chi Dung, Nguyen Tuong Thuy dan Le Huu Minh Tuan dihukum karena membuat, menyimpan, menyebarkan informasi, bahan, barang dengan tujuan untuk melawan negara, pada persidangan yang digelar di kota Ho Chi Minh,” kata Kementerian Keamanan Publik Vietnam, dikutip dari Reuters, 5 Januari 2021.

Dung mendirikan Asosiasi Jurnalis Independen Vietnam (IJAVN) pada 2014 dan masih menjabat sebagai ketua IJAVN. Pham Chi Dung adalah wartawan lepas VOA Vietnam, menurut situs US Agency fo Global Media. Kepolisian Vietnam menuduh Dung telah mengupayakan perubahan rezim.

VN Express melaporkan Pham Chi Dung, 55 tahun, dijatuhi hukuman penjara 15 tahun, sementara rekannya Nguyen Tuong Thuy, 71 tahun, dan Le Huu Minh Tuan, 32 tahun, masing-masing dijatuhi hukuman 11 tahun penjara.

Ketiganya dihukum karena propaganda anti-negara berdasarkan pasal 117 KUHP, tuduhan umum yang sering digunakan untuk membungkam mereka yang berani menyimpang dari garis propaganda pimpinan Partai Komunis saat ini, meskipun artikel ini bertentangan dengan pasal 25 Konstitusi Republik Sosialis Vietnam, yang memproklamasikan kebebasan pers, menurut Reporters Without Borders atau Reporters sans frontières (RSF), kelompok advokasi internasional untuk jurnalis.

Dung, yang merupakan mantan anggota Partai Komunis dan disebut sebagai “pahlawan informasi” oleh RSF pada 2014, ditangkap di rumahnya di kota Ho Chi Minh pada November 2019. Thuy ditangkap di rumahnya di Hanoi pada tanggal 23 Mei 2020, dua hari setelah penangkapan anggota IJAVN lainnya, Pham Chi Thanh.

BACA JUGA  Hari Pahlawan, Pengendara di Banjar Heningkan Cipta

Sementara Tuan adalah perwakilan dari generasi muda jurnalis independen. Dia ditangkap pada Juni 2020 setelah meliput politik Vietnam dengan fokus khusus pada upaya masyarakat sipil untuk mendemokratisasi negara.

Para hakim mengatakan para terdakwa, setelah melakukan kontak rutin dengan kelompok-kelompok yang tidak puas secara politik, telah mengunggah banyak artikel yang mendistorsi kebijakan partai dan negara. Ketiganya akan menjalani tahanan rumah selama tiga tahun setelah menyelesaikan masa hukumannya, VN Express melaporkan.

Kementerian Keamanan Publik menuduh mereka telah menulis cerita untuk “memutarbalikkan dan mencemarkan nama baik pemerintahan rakyat, melanggar kepentingan Partai Komunis Vietnam dan negara”.

“Ini adalah kegiatan yang sangat berbahaya yang jika tidak dihentikan dapat merusak keamanan nasional,” kata kementerian dalam sebuah pernyataan.

Ketiganya tidak bisa dimintai keterangan oleh Reuters.

Amnesty International mengatakan putusan itu menggarisbawahi penindasan pemerintah terhadap media independen, terutama menjelang kongres.

“Bahkan dengan standarnya yang sangat represif, beratnya hukuman menunjukkan tingkat kemunduran yang dicapai oleh sensor Vietnam,” kata wakil direktur regional Amnesty International, Emerlynne Gil.

Menjelang persidangan, Phil Robertson, wakil direktur Asia di Human Rights Watch, menyebut tuduhan terhadap ketiga jurnalis adalah tuduhan “palsu”.

“Jika partai yang berkuasa begitu yakin dalam kepemimpinannya, ia harus menunjukkan kepercayaannya dengan menghormati hak-hak sipil dan politik, mengakhiri kontrol ketatnya terhadap pers, dan mengizinkan jurnalis independen untuk dengan bebas menyuarakan pendapat mereka alih-alih membungkam mereka dengan penangkapan dan vonis penjara yang lama,” kata Phil Robertson.

Reporters Without Borders atau Reporters sans frontières (RSF) mengatakan pengadilan ini murni bermotif politik untuk mengintimidasi warga Vietnam yang ingin untuk mendapatkan informasi kredibel dan independen.

“Ukuran vonis yang dijatuhkan kepada ketiga jurnalis IJAVN ini sangat mengejutkan,” kata Daniel Bastard, ketua RSF Asia-Pasifik.

BACA JUGA  Wartawan dan Akademisi ULM Beri Dukungan Moral Dosen Saiful Mahdi

Vietnam sedikit demi sedikit terbuka terhadap informasi seiring reformasi perubahaan sosial dan ekonomi. Namun, Partai Komunis Vietnam yang berkuasa mempertahankan sensor media yang ketat dan hanya menerima sedikit kritik.

Partai Komunis Vietnam, di bawah kepemimpinan Nguyen Phu Trong yang berusia 76 tahun, telah meningkatkan tindakan keras terhadap perbedaan pendapat menjelang kongres lima tahunannya yang akan diadakan akhir bulan ini.

Sumber: Tempo.co

Vinkmag ad
Bagikan ini :

diananta putra sumedi

Editor

Read Previous

Wagub Kalsel: Pejabat Disuntik Pertama Vaksin Covid

Read Next

59.372 Warga Kalsel Terima Sertifikat Tanah Gratis

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *