Dibor Pertamina, Serikat Petani Inspeksi Lahan di HSS

Survei seismik Pertamina HSS

Petani dan SPI Kalsel inspeksi titik survei seismik 2D Pertamina di Desa Baruh Jaya, Minggu (3/1/2021). banjarhits.com

Tiga orang petani pemilik lahan didampingi Serikat Petani Indonesia (SPI) Kalimantan Selatan menginspeksi titik survei seismik 2D yang dibor PT Pertamina di Desa Baruh Jaya, Kecamatan Daha Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan pada Minggu (3/1/2021) sore.

Menurut Ketua SPI Kalsel, Dwi Putra Kurniawan, pihaknya mempersoalkan Pertamina yang mematok dan mengebor di lahan pertanian tanpa proses yang baik, seperti tanpa izin pemilik lahan dan sosialisasi. Mereka melihat titik survei seismik 2D di ladang pertanian milik Bakeri, Ketua SPI Kabupaten Hulu Sungai Selatan pada Minggu (3/1/2020).

“Ini sudah melanggar hak asai petani. Kami dorong Pertamina jangan mengganggu lahan pertanian yang belum dapat izin resmi dari petaninya,” kata Dwi Putra Kurniawan kepada banjarhits.com, Minggu (3/1) sore.

Dwi melihat ada beberapa patok, tapi belum diledakkan. Adapula kabel yang muncul dari dalam tanah. “Seharusnya Pertamina menjelaskan kabel ini berbahaya atau tidak,” ucap Dwi.

Kabel itu ditanam 30 meter ke dalam tanah di tengah ladang pertanian. Menurut dia, kabel berfungsi penghantar listrik, seperti di sawah untuk menjerat tikus.

“Pertamina harus menjelaskan dulu fungsinya apa? Berbahaya atau tidak? Selama ini petani tidak mendapat informasi itu, seolah-olah Pertamina tanpa sosialisasi,” Dwi melanjutkan.

Pihaknya bukan menolak survei seismik tersebut. Dwi sudah meminta petani tidak bertindak yang bisa memicu kriminalisasi, seperti mencabut, menggeser, dan melarang Pertamina bekerja.

“Yang jelas petani membiarkan. Yang jelas petani ingin tahu tujuan kegiatan ini apa? Izin dari mana? sosialisasinya kapan? Ini perlu dijelaskan Pertamina,” ucap Dwi Putra.

Ia sudah menerima laporan soal kerusakan lahan pertanian di beberapa titik. Kalaupun ada ganti rugi dari Pertamina, menurut Dwi, harus ada perhitungan nominal yang rinci menyangkut upah, biaya produksi yang dikeluarkan petani, dan potensi hasil tanaman. Bukan sekedar tanam tumbuh saja.

BACA JUGA  Bupati Batola Sampaikan Rapeda Pertanggungjawaban APBD 2020

Dua petani yang diwawancarai banjarhits.com di sekitaran ladang milik Bakeri, mengaku belum pernah mendapat sosialisasi dari Pertamina soal survei seismik 2D di lahan setempat.

Juru bicara Pertamina Survei Seismik 2D Tanjung Barat, Renaldy Lapotulo, sebelumnya siap menyelesaikan silang sengkarut survei seismik 2D dengan petani di Kecamatan Daha Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Provinsi Kalimantan Selatan.

Pertamina menunggu niat baik dari Serikat Petani Indonesia (SPI) Kalsel dan SPI Kabupaten HSS untuk menyelesaikan persoalan ini lewat mediasi.

“Mari sama-sama bertemu, saling komunikasi lagi tentang masalah yang ada. Intinya kami terbuka atas persoalan yang timbul dengan cara kekeluargaan, kami menunggu itikad baik dari SPI. Mari duduk bersama,” kata Renaldy Lapotulo.

Menurut dia, Pertamina sudah membuatkan tiga sumur bor atas permintaan Bakeri untuk pengairan sawah petani. Pertamina juga memasangkan pipa paralon sesuai kehendak Bakeri. Selain itu, kata Renaldy, Pertamina sudah sosialisasi yang melibatkan kelompok petani, pihak kecamatan, polsek, dan koramil setempat.

Renaldy mengakui masih ada petani yang belum terdata. Itu sebabnya, ia terus memperbarui pendataan petani terdampak aktivitas survei seismik 2D. Kalaupun ada kerusakan, ia tetap tanggung jawab pembayaran kerusakan tanam tumbuh sesuai indeks harga yang ditetapkan Pemkab HSS.

Vinkmag ad
Bagikan ini :

diananta putra sumedi

Editor

Read Previous

Buaya Terkam Nenek di WC Jamban

Read Next

Sulitnya Bertani di Rawa Lebak Nagara HSS

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *