Sulada, Kuliner Khas Nagara yang Kurang Populer

Sulada

Lazifah sedang makan Sulada di rumahnya, Selasa (29/12/2020). Foto: banjarhits.com

Lazifah, wanita paruh baya asal Baruh Jaya, Nagara, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), itu tengah memarut Ubi yang telah direbus, lalu menjemurnya di teras belakang rumah.

Parutan ubi ini bahan baku Sulada, makanan ringan khas asal Nagara yang masih eksis di era milenial. Lazifah berkata makanan khas Nagara itu memang belum populer di kalangan masyarakat Kalimantan Selatan.

Pamor kuliner Sulada hanya dikenal sebagian warga saja. Mereka yang sudah kenal pasti pesan Sulada. “Ini ada orang yang membawa ke Banjarmasin dan Palangkaraya. Itu pun juga orang Nagara yang memesan dan yang bisa memakannya,” ucap Lazifah kepada banjarhits.com, pada Selasa (29/12/2020).

Sementara, proses dari pembuatan Sulada cukup memakan waktu lama. Mulai dari merebus Ubi di panci berukuran kecil maupun besar. Kerap Lazifah memakai panci besar untuk mendapatkan hasil sekitar 10 liter setiap menjemur parutan ubi.

“Proses merebusnya 1 jam kalaunya panci besar. Bila dengan panci kecil, setidaknya 5 menit sudah masak. Panci besar, kita dapatkan 10 liter. Yang dijemur inilah,” ujar Lazifah.

Lazifah bercerita, setelah ubi yang direbus mengering, kemudian diparut di atas tikar plastik biru berukuran 2×3 meter per segi. Hasil yang dikeringkan ini siap dijual setelah dibungkus. Harganya,Rp 4 ribu seliter per bungkus kantong plastik kresek itu.

Parutan ubi yang dijemur sebagai bahan baku kuliner Sulada. Foto: banjarhits.com

Adapun komposisi makanan khas Sulada ini terdiri dari parutan kelapa yang dikupas dan dicampurkan dengan air hangat beserta gula putih ataupun gula merah.

“Pakai kelapa yang diparut itu dan dicampurkan air hangat sedikit, serta air gula putih maupun gula merah juga bisa. Terserah aja asalkan itu pemanis yang sesuai keinginan kita,” katanya.

Sejak 1980, Lazifah telah menekuni penjualan Sulada yang merupakan peninggalan dari neneknya. Sebagai pewaris, ia menapaki produksi Sulada pasca menikah hingga sekarang.

BACA JUGA  Aklamasi, Dahlan Pimpin KONI Batola Gantikan Saleh

“Alhamdulillah, lumayan hasilnya untuk tambahan buat keluarga. Apalagi musim hujan gini, cuaca tidak mendukung buat ke sawah maka para petani mengambil alternatif seperti jualan Sulada ini,” ujar Lazifah.

Tak hanya Lazifah, hampir sebagian warga Nagara memproduksi Sulada yang juga tersebar di beberapa desa. Ia merasa pekerjaan sampingan ini sangat membantu perekonomi mereka ketika musim hujan tiba.

“Cukup banyak yang memproduksi Sulada ini, hampir ratusan warga dan bahkan lebih, itu semua rata-rata petani di sini. Terlebih, apabila musim hujan seperti ini,” pungkasnya.

Vinkmag ad
Bagikan ini :

Muhammad Rahim

Read Previous

Kredit Penolong Ibu-ibu di Tengah Pandemi

Read Next

Guru Bukan CPNS, BKN: Tenaga Guru Potensi Diganti

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *