Filmaker Aruh Film Kalimantan 2020 Lebih Baik

Aruh Film Kalimantan

Gelaran Aruh Film Kalimantan 2020 pada 29 Desember 2020. Foto: banjarhits.com

Direktur Aruh Film Kalimantan 2020, Munir Sadhikin, merasa pagelaran Aruh Film Kalimantan di tahun 2020 mengalami lonjakan kualitas dari sebelumnya. Hal itu diakuinya saat ditemui pewarta banjarhits.com di Kampung Buku Banjarmasin, Jalan Sultan Adam.

“Dirasakan pada tahun ini para filmaker di Banua, terus meningkat kualitasnya dan karena yang kami berikan Mandau Emas itu sudah menjadi standar umumlah dalam perfilman di Indonesia, khusus di Kalimantan. Itu artinya, bukti bahwa pandemi tidak mengurangi kualitas mereka,” ucap Munir Sadhikin kepada banjarhits.com, Selasa (29/12/2020) malam.

Bagi Munir, tidak mengecewakan yang telah masuk daftar nominasi perfilman di AFK 2020. Bukan ukuran, menurutnya jika kuantitas menurun apalagi dipandang bahwa tahun ini hadiahnya tidak mewah atau sebagainya.

“Agak kurang aja misalnya dipandang bahwa AFK ini terlihat lebih sederhana, viewnya kecil. Penghargaannya tidak terlalu mewah dan sebagainya, padahal bukan itu. Para filmaker itu hanya perlu diapresiasi,” ujarnya.

Ditengah pandemi Covid-19, kata Munir, mereka tetap produktif dan kualitanya tidak menurun, baik diprogram kompetisi maupun non-kompetisi.

“Ada tiga penghargaan yang diberikan, pertama Mandau Perak khusus pelajar yang dimenangkan film Seroja asal desa Batu Mandi, Balangan. Sementara untuk Mandau Emas khususnya umum dimenangkan film Tulah Tungku dari Pontianak, Kalimantan Barat,” ucap alumni jurusan film di Akademi Komunikasi Indonesia (AKINDO) Jogjakarta.

Selain itu, kata Munir, juga ada penghargaan spesial yang dimenangkan oleh film Huma Amas asal Samarinda, Kalimantan Timur. Ia menyadari kualitas yang dirasakan terdapat pada kategori pelajar, maka pihak AFK terus memberikan ruang dalam penghargaan tersebut.

“Dari pelaksanaan AFK, kita sudah melihat potensi itu. Makanya kita tidak akan meninggalkan kategori pelajar. Ada 2 program yang diberikan, yaitu Mandau Perak dan Bauntung Batuah,” kata Munir.

BACA JUGA  Setelah Cuti, Bupati Batola Beri Bantuan Kecelakaan Klotok

Melihat potensi pelajar, Munir merasa harus terus digali agar adanya regenerasi perfilman di Banua. Kata Munir, cara mengapresiasi adalah bagaimana film itu dicintai oleh penikmatnya, baik itu filmaker dan masyarakatnya itu sendiri.

“Dorongan dari pemerintah itu membantu, cuma tetapi kami percaya bahwa festival film besar itu harus dari semangat kemandirian dan kepemilikan bersama terhadap film tersebut,” pungkasnya.

Vinkmag ad
Bagikan ini :

Muhammad Rahim

Read Previous

7 Poin Isi Surat Pembubaran Front Pembela Islam

Read Next

170 Pejabat Barito Kuala Dirotasi dan Dilantik

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *