4 Alasan 2BHD Unggul Sementara Atas Sayed Jafar

M Uhaib As’ad (kiri) dan Komisioner Komnas HAM Hairiansyah (kanan) saat FDG Pilkada Kalsel di markas Walhi Kalsel, Jumat (11/12/2020). Foto: dok banjarhits.com

Perolehan sementara suara paslon Cabup dan Cawabup Kotabaru Burhanudin – Bahrudin (2BHD) unggul tipis atas paslon Sayed Jafar Alaydrus – Andi Rudi Latif (SJA – ARUL). Mengutip dari situs KPU.GO.ID pada pukul 20.20 wita, Jumat (11/12/2020), paslon 2BHD meraih 50,1 persen suara dan SJA-ARUL meraup 49,9 persen suara.

Data itu dihimpun dari 401 TPS atau baru 44,96 persen dari 892 TPS se-Kabupaten Kotabaru. Keunggulan suara sementara 2BHD atas SJA-ARUL menarik dicermati karena 2BHD calon independen alias tanpa dukungan partai politik. Adapun SJA-ARUL disokong penuh koalisi partai politik parlemen.

Menurut pakar politik dari Universitas Islam Kalimantan (Uniska) Banjarmasin, Muhammad Uhaib As’ad, ada empat poin untuk menjelaskan keunggulan sementara 2BHD atas SJA-ARUL di Pilkada Kotabaru 2020. Poin pertama, kata Uhaib, mesin partai politik penyokong SJA-ARUL tidak bekerja optimal.

Kata Uhaib, parpol tidak cukup dominan menjadi mesin mobilisasi massa. Menurut dia, fenomena non partai bisa mengalahkan sementara suara inkamben Sayed Jafar suatu hal yang menarik peta politik lokal di Kalsel.

“Artinya ini pelajaran bagi calon bupati, gubernur akan datang, jangan terlalu percaya mengandalkan mesin politik untuk melakukan satu political marketing atau mobilisasi massa, karena masyarakat sudah banyak yang tidak terlalu care dengan partai,” kata Uhaib As’ad kepada banjarhits.com, Jumat (11/12/2020).

Poin kedua, Uhaib menyebut sosok Burhanudin dan Bahrudin sebagai simbol perlawanan atas hegemoni oligarki kekuasaan perusahaan tambang dan kelapa sawit. Ia kasih contoh di Pulau Sebuku, dimana suara Burhanudin dominan ketimbang Sayed Jafar.

“Padahal di situ ada jaringan patronase hubungan kefamilian, tetapi di sana yang menang (unggul sementara, red) Bahrudin,” ujarnya.

Poin ketiga, kata Uhaib, masyarakat Kotabaru rindu kepemimpinan yang membawa perubahan, bukan menguntungkan elit tertentu dan korporasi. Adapun poin keempat, ia melihat ada imbas faktor tertangkapnya mantan Bupati Irhami berimbas kepada masyarakat.

BACA JUGA  Presiden Jokowi Resmikan Bendungan Tapin Kalsel

Catatan redaksi banjarhits.com, Irhami Rijani Bupati Kotabaru 2010-2015 yang kini mendekam di Lapas Kotabaru. “Dia seorang mantan bupati yang melakukan penyalahgunaan kekuasaan atau abuse of power. Itu ada efek psikologis dan sosiologis bagi masyarakat di Kotabaru, dan itu dianggap arogansi kekuasaan. Muncul Burhanudin non partai,” Uhaib As’ad melanjutkan.

Mengacu survei yang pernah dilakukan, ia menyebut dominasi tim sukses dari relawan lebih signifikan ketimbang tim sukses dari internal partai. Uhaib menerima banyak pernyataan dari calon bupati dan calon walikota bahwa mereka lebih mengandalkan relawan.

Artinya, kata dia, parpol sekedar memberikan kendaraan politik. Setelah itu, terserah sang calon mau diapaikan, dan ada kesan masa bodoh.

“Tetapi relawan ini dengan sumber daya yang dimiliki, bahkan berkorban pikiran, tenaga, dana untuk memenangkan sang calon yang didukung. Ada heroisme dan fanatisme terhadap seseorang yang didukung, dan dia mati-matian,” ucap Uhaib As’ad.

Menurut dia, ada pelajaran berharga dalam melihat kemenangan seseorang di Kalsel. Sebab, lagi-lagi mesin politik parpol tidak terlalu diharap memenangkan seseorang. Uhaib melihat peran relawan paling menentukan lewat jaringan patronase massa.

“Saya mengucapkan terimakasih pada relawan yang mendukung kandidat tertentu, ini bagian menarik dalam kajian politik lokal. Jadi temuan baru, penelitian baru. Bahwa mesin politik tidak cukup ampuh meyakinkan seseorang untuk mengantarkan kemenangan. Salah satunya Kotabaru,” tutupnya.

Vinkmag ad
Bagikan ini :

diananta putra sumedi

Editor

Read Previous

Tim Sahbirin Noor: Ada Indikasi Kecurangan Suara

Read Next

Proyek GOR Batola Setara Dikebut

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *