Alasan Safi’i Kemamang Enggan Patenkan Lagu Pembebasan

Safi’i Kemanang. Foto: Berdikari Online

Pamor lagu “Pembebasan” sudah mendarah daging dan populer dalam dunia gerakan massa aksi. Setiap aksi mahasiswa dan buruh, lirik lagu ciptaan Safi’i Kemamang itu kerap melantun di tengah lautan massa.

Diciptakan oleh Safi’i, belakangan lagu ini dipopulerkan oleh band Marjinal. Lagu “Pembebasan” kembali bergaung ketika demonstrasi menolak Omnibus Law UU Cipta Kerja di sejumlah kota/kabupaten di Indonesia. Muncul pula sedikit modifikasi lirik lagu dari versi aslinya.

Safi’i sadar karya lirik lagunya dimodifikasi ulang. “Terkait dengan munculnya beberapa versi lirik lagu, sebenarnya saya cukup terganggu. Namun, saya memahami kondisi dan dinamika perpolitikan serta pergerakan nasional,” kata Safi’i Kemamang kepada banjarhits.com, Jumat (27/11/2020).

Oleh karena itu, doi mencoba untuk cuek alias tidak ambil pusing atas hal tersebut. Apalagi, saat lagu itu ia tulis, Safi’i tidak terpikir bahwa lagu Pembebasan akan popular dan abadi sebagaimana yang ada sekarang.

Meskipun begitu, Safi’i tetap mengikuti dan mencermati seksama perkembangan lagu tersebut. “Saya hanya menanggapi dengan senyuman saja ketika ada yang mengklaim soal lagu tersebut, serta ketika dipakai juga oleh anggota TNI dan POLRI dalam acara-acara mereka,” ucap Safi’i Kemamang.

Ihwal keinginan untuk mematenkan atau hak paten terhadap lagu Pembebasan, Safi’i mengakui sudah ada kawan yang pernah menyarankan untuk mengurus hak paten tersebut.

Pertimbangan mereka, kata Safi’i, melalui hak paten atas lagu itu, maka penyimpangan dan aksi ambil untung dari orang-orang oportunis bisa dihindari atau diminimalisir.

“Namun, hingga sejauh ini, saya belum bisa memutuskan. Ada banyak pertimbangan. Salah satunya adalah saya tidak punya uang untuk mematenkan lagu tersebut. Sedaangkan terkait dengan royalty setelah (seandainya sudah saya patenkan), jujur saja, saya tidak ambil pusing dengan hal tersebut,” Safi’i melanjutkan.

BACA JUGA  Puluhan Napi Lapas Kotabaru Bebas Lewat Asimilasi

Kalaupun ada royalti setelah dipatenkan, Safi’i tidak ingin mengambil sepeserpun uang dari royalty tersebut. Kata dia, semua royalty akan dikembalikan lagi kepada pembangunan dan pengembangan gerakan rakyat itu sendiri.

“Jangan lupa bahwa di lagu tersebut, saya menulis kata “buruh, tani, mahasiswa, kaum miskin kota”. Sesungguhnya, merekalah yang berhak menerima royalty tersebut, bukan saya. Saya membuat lagu tersebut, saya menulis lirik tersebut karena mereka. Jadi merekalah yang pantas untuk menjadi pemiliknya,” Safi’i melanjutkan.

Safi’i terlibat dalam gerakan politik sejak bocah. Safi’i kecil sudah tertarik dunia politik. Sososknya mulai terjun ke dunia gerakan sejak masuk bangku STM Negeri Tuban, Provinsi Jawa Timur.

Ketika itu, kata dia, ada praktek penyelewengan dan korupsi yang dilakukan oleh kepala sekolah. Lalu, Safi’i dan kawan-kawan se-STM melakukan aksi demonstrasi memprotes praktek korupsi tersebut.

“Selama di STM, saya dan kawan-kawan lain melakukan demonstrasi sebanyak 3 kali dalam setiap tahunnya. Dari sinilah, saya belajar mengenai dunia pergerakan dan perlawanan,” ucap dia.

Ketertarikan di dunia gerakan berlanjut saat masuk perguruan tinggi. Safi’i melanjutkan kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta di Kota Surabaya. Aktivitas pergerakan Safi’i frekuensinya semakin tinggi saat bergabung dengan SMID (Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi) dan PRD (Partai Rakyat Demokratik).

Selain itu, Safi’i terlibat juga dalam aksi-aksi dan pengorganisasian gerakan pembebasan nasional Timor Timur (Timor Leste) serta Papua Barat. Pada tanggal 2 Juli 1996, ia sempat diculik untuk dibunuh, namun berhasil meloloskan diri.

“Jadi, dunia pergerakan pelajar, mahasiswa, buruh, tani, mahasiswa dan kaum miskin perkotaan bukanlah hal yang baru lagi bagi saya,” kata Safi’i Kemamang.

BACA JUGA  Update Covid-19 Batola: 1 Meninggal dan 4 Sembuh

Saat ini, ia menetap di Timor Leste, sejak negara itu resmi merdeka dari Indonesia pada 2002. Ia pulang pergi dari Indonesia ke Timor Leste dan sebalinya. Selama di Timor Leste, Safi’i sempat bekerja di Kementerian Pertanian sebagai penasehat Menteri selama 7 tahun.

Selain itu, sejak awal ia mencoba membangun gerakan sosial di Timor Leste hingga hari ini. “Saya mulai memasuki dan tinggal di Timor Leste sejak bekas propinsi Indonesia ini merdeka,” ia melanjutkan.

Ini lirik asli lagu “Pembebasan” sesuai tulisan tangan Safi’i Kemamang:

Buruh, tani, mahasiswa, kaum miskin kota
Bersatu padu rebut demokrasi
Gegap gempita dalam satu suara
Demi tugas suci yang mulia

Hari-hari esok adalah milik kita
Terbebasnya massa rakyat pekerja
Terciptanya tatanan masyarakat
Sosialis sepenuhnya

Marilah kawan, mari kita kabarkan
Di tangan kita tergenggam arah bangsa
Marilah kawan, mari kita nyanyikan
Sebuah lagu tentang pembebasan

BERSAMBUNG

Vinkmag ad
Bagikan ini :

diananta putra sumedi

Editor

Read Previous

Narapidana Lapas Kotabaru Meninggal

Read Next

Ratusan Personel di HSU Siap Amankan Pilgub Kalsel

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *