Di Indonesia, 5 Daerah Ini Pakai Nama Awalan Banjar

Taman Maskot Bekantan saat malam hari di Banjarmasin. Foto: banjarhits.com

Penyebutan kata Banjar untuk merujuk sebuah kabupaten/kota, kerap membuat bingung orang. Di Kalimantan Selatan, mayoritas orang yang menyebut suku kata Banjar sering merujuk Kota Banjarmasin — ibu kota Provinsi Kalimantan Selatan.

Padahal, ada tiga wilayah administratif kota/kabupaten di Kalsel yang memakai suku kata Banjar: Kota Banjarmasin, Kota Banjarbaru, dan Kabupaten Banjar. Awalan suku kata Banjar sebagai wilayah administratif ini merujuk asal muasal Suku Banjar yang mendiami daratan Kalimantan Selatan.

Apakah penamaan Banjar untuk sebuah kota/kabupaten cuma di Kalsel? Nyatanya tidak. Di Jawa Barat, ada nama Kota Banjar. Adapun di Jawa Tengah, ada Kabupaten Banjarnegara. Dua daerah ini tidak punya kaitan dengan Suku Banjar.

Dinukil dari website banjarkota.go.id, pembentukan Kota Banjar tidak lepas dari sejarah berdirinya Pemerintah Kabupaten Ciamis, Provinsi Jawa Barat. Rangkaian waktu perjalanan berdirinya Pemerintah Kabupaten Ciamis sampai terbentuknya Pemerintah Kota Banjar melalui tahapan-tahapan sebagai berikut :

Kota Banjar sering disebut Banjar Patroman. Banjar sejak didirikan sampai sekarang mengalami beberapa kali perubahan status:

Banjar sebagai Ibukota Kecamatan (1937 – 1940).
Banjar sebagai Ibukota Kewadanaan (1941 – 1 Maret 1992).
Banjar sebagai Kota Administratif (1992 – 20 Pebruari 2003).
Banjar Sebagai Kota sejak tanggal 21 Februari 2003.

Terbentuknya Banjar Kota Administratif:
Perkembangan dan kemajuan wilayah Provinsi Jawa Barat pada umumnya dan Kabupaten Ciamis khususnya wilayah Kecamatan Banjar, memerlukan pengaturan penyelenggaraan pemerintahan secara khusus guna menjamin terpenuhinya tuntutan perkembangan dan kemajuan sesuai dengan aspirasi masyarakat di Wilayah Kecamatan Banjar.

Wilayah Kecamatan Banjar menunjukan perkembangan dan kemajuan dengan ciri dan sifat kehidupan perkotaan. Atas hal tersebut wilayah Banjar perlu ditingkatkan menjadi Kota Administratif yang memerlukan pembinaan serta pengaturan pemerintahan, pembangunan dan kemasyarakatan secara khusus.

Taman Kota Banjar, Provinsi Jawa Barat. Foto: Fokusjabar.id

Akhirnya tahun 1992, Pemerintah membentuk Banjar Kota Administratif berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun 1991 tentang Pembentukan Banjar Kota Administratif yang diresmikan oleh Menteri Dalam Negeri pada tanggal 2 Maret 1992.

BACA JUGA  Jembatan Cemara Alternatif atas Penutupan Jembatan Alalak

Beberapa alasan mengapa Banjar menjadi Kota administratif antara lain: Keadaan geografis, demografis, dan sosiologis kehidupan masyarakat yang perkembangannya sangat pesat sehingga memerlukan peningkatan pelayanan dan pengaturan dalam penyelenggaraan pemerintahan.

Terbentuknya Kota Banjar:

Semakin pesatnya perkembangan dan tuntutan aspirasi masyarakat yang semakin mendesak agar Banjar Kota Administratif segera ditingkatkan menjadi Pemerintah Kota dimana hal ini sejalan dengan tuntutan dan undang-undang nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. Di sisi lain Pemerintah Kabupaten Ciamis bersama-sama Pemerintah Provinsi Jawa Barat memperhatikan perkembangan tersebut dan mengusulkan kepada Pemerintah Pusat dan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia.

Momentum peresmian Kota Banjar yang diikuti pelantikan Penjabat Walikota Banjar dapat dijadikan suatu landasan yang bersejarah dan tepat untuk dijadikan Hari jadi Kota Banjar.

Adapun dikutip dari banjarnegarakab.go.id, dalam perang Diponegoro, R.Tumenggung Dipoyudo IV berjasa kepada pemerintah mataram, sehingga diusulkan oleh Sri Susuhunan Pakubuwono VII untuk ditetapkan menjadi Bupati Banjar berdasarkan Resolutie Governeor General Buitenzorg tanggal 22 agustus 1831 nomor I, untuk mengisi jabatan Bupati Banjar yang telah dihapus setatusnya yang berkedudukan di Banjarmangu, dan dikenal dengan Banjarwatulembu.

Alun-alun Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Foto: Facebook banjarnegaraterkini

Usul tersebut disetujui. Persoalan meluapnya Sungai Serayu menjadi kendala yang menyulitkan komunikasi dengan Kasunanan Surakarta. Kesulitan ini menjadi sangat dirasakan menjadi beban bagi bupati ketika harus menghadiri Pasewakan Agung pada saat-saat tertentu di Kasultanan Surakarta.

Untuk mengatasi masalah ini diputuskan memindahkan ibukota kabupaten ke selatan Sungai Serayu.

Daerah Banjar (sekarang Kota Banjarnegara) menjadi pilihan untuk ditetapkan sebagai ibukota yang baru. Kondisi daerah yang baru ini merupakan persawahan yang luas dengan beberapa lereng yang curam.

Di daerah persawahan (Banjar) inilah didirikan ibukota kabupaten (Negara) yang baru sehingga nama daerah ini menjadi Banjarnegara (Banjar : Sawah, Negara : Kota).
R.Tumenggung Dipoyuda menjabat Bupati sampai tahun 1846, kemudian diganti R. Adipati Dipodiningkrat, tahun 1878 pensiun. Penggantinya diambil dari luar Kabupaten Banjarnegara.

BACA JUGA  Aneka Persoalan Dihadapi Petani saat Pandemi Covid

Gubermen (pemerintahan) mengangkat Mas Ngabehi Atmodipuro, patih Kabupaten Purworejo(Bangelan) I Gung Kalopaking di panjer (Kebumen) sebagai penggantinya dan bergelar Kanjeng Raden Tumenggung Jayanegara I. Beliau mendapat ganjaran pangkat “Adipati” dan tanda kehormatan “Bintang Mas”.

Tahun 1896 beliau wafat diganti putranya Raden Mas Jayamisena, Wedana distrik Singomerto (Banjarnegara) dan bergelar Kanjeng Raden Tumenggung Jayanegara II.

Dari pemerintahan Belanda Raden Tumenggung Jayanegara II mendapat anugrah pangkat “Adipati Aria” Payung emas Bintang emas besar, Officer Oranye. Pada tahun 1927 beliau berhenti, pensiun. Penggantinya putra beliau Raden Sumitro Kolopaking Purbonegoro, yang juga mendapat anugrah sebutan Tumenggung Aria, beliau keturunan kanjeng R. Adipati Dipadingrat, berarti kabupaten kembali kepada keturunan para penguasa terdahulu.

Di antara para Bupati Banjarnegara, Arya Sumitro Kolopaking yang menghayati 3 jaman, yaitu jaman Hindia Belanda, Jepang dan RI, dan menghayati serta menangani langsung Gelora Revolusi Nasional (1945 – 1949).

Nah, sekarang sobat banjarhits.com sudah tahu perbedaan lima administratif kota/kabupaten di Indonesia yang pakai suku kata Banjar. Dua kabupaten/kota di tanah Jawa tidak ada kaitan dengan Suku Banjar yang mendiami Kalimantan Selatan.

Vinkmag ad
Bagikan ini :

diananta putra sumedi

Editor

Read Previous

Lewat HIPMI, Penyelesaian Bendungan Kusan Dikebut

Read Next

BI: 92 Persen Responden di Kalsel Terdampak Corona

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *