Hari Pahlawan, #SaveMeratus Berkibar di Puncak Arta

Save Meratus Arta

Aksi #SaveMeratus di Puncak Arta, Kabupaten Banjar pada Selasa (10/11/2020). Foto: banjarhits.com

Mengambil tempat di Puncak Bukit Aranio Tambela atau lebih dikenal Puncak Arta, puluhan aktivis dari berbagai lembaga dan aliansi membentangkan spanduk raksasa bertuliskan #SAVEMERATUS #ENDCOAL.

Aksi yang dipelopori oleh Walhi Kalimantan Selatan itu sebagai bentuk penolakan terhadap Omnibus Law UU Cipta Kerja. Direktur Eksekutif Walhi Kalsel, Kisworo Dwi Cahyono berpendapat, tanpa Undang-Undang Ciptaker saja, wilayah Pegunungan Meratus telah porak poranda akibat tambang batubara dan perkebunan sawit.

“Apalagi dengan adanya undang-undang sapu jagat tersebut. Banyak pasal yang hanya untuk kepentingan kaum elit oligarki saja yang pastinya berdampak buruk pada lingkungan, ekologi dan lainnya,” ucap Kisworo kepada banjarhits.com, Selasa (10/11/2020).

Pihaknya mesti menyampaikan bahwa Meratus dalam keadaan sekarat. Untuk itulah, ia mendesak Presiden Joko Widodo segera mencabut undang-undang tersebut. “Menyelamatkan Meratus menyelamatkan kehidupan,” tegas Cak Kis — begitu ia disapa.

Ketua harian SPI Kalimantan Selatan, Dwi Putra Kurniawan, berkata peringatan Hari Pahlawan 10 November 2020 mengambil tema ‘Cabut Omnibus law (UU Nomor 11/2020) tentang Cipta Kerja. Pihaknya komitmen berjuang bersama kawan-kawan Fraksi Rakyat Indonesia (FRI) Kal-Sel, eLSISK, mahasiswa, aktivis lingkungan, buruh, aliansi pelajar, nelayan serta masyarakat adat.

“Mengingat Undang-undang ini hanya memberi keuntungan pada oligarki dari para politisi negeri dan kroni-kroni yang menguasai korporasi perusak alam dan lingkungan yang bisa berdampak langsung pada sektor pertanian terutama pangan,” ujar Dwi.

Dwi bilang, cita-cita kedaulatan pangan akan makin tersingkir akibat dipermudahnya keran impor pangan. Menurut dia, hal ini menunjukkan kebijakan negara membuat petani Indonesia makin jauh dari kata sejahtera.

Contoh kecil, kata Dwi, kebijakan negara terhadap pupuk subsidi bagi petani adalah pupuk kimia yangg selama ini diproduksi dan dikuasai oleh korporasi. Menurut dia, limbah organik yang melimpah sejatinya bisa diolah menjadi pupuk organik yang ramah lingkungan.

BACA JUGA  Saat Dakwah, Rasulullah Banyak Hadapi Cobaan

“Sehingga bisa mewujudkan pertanian berkelanjutan yang ramah lingkungan,” ucap Dwi Putra.

Save Meratus merupakan perjuangan bersama seluruh masyarakat Kalimantan Selatan guna memastikan Bumi Antasari masih layak huni, dan tidak terus bertambah rusak oleh aktivitas korporasi pertambangan batubara maupun perkebunan monokultur seperti sawit.

Komitmen dan kesadaran bersama perlu terus dijaga demi kelestarian alam bagi generasi mendatang.

SPI Kalimantan Selatan terus berupaya mendorong Pemerintah untuk menciptakan berbagai aturan dan kebijakan yang seharusnya mementingkan rakyat banyak. Masifnya penolakan terhadap UU Ciptaker bukti bahwa isinya bukan untuk rakyat.

Pemerintah dan DPR RI, kata Dwi, hanya sekedar membuat judul Cipta Kerja supaya masyarakat menganggapnya ini sebuah kebaikkan. “Tetapi isinya hanya memperkuat oligarki yang selama ini hanya menciptakan kesenjangan sosial dan ekonomi tambah parah dan jauh dari sila ke-5 Pancasila sebagai dasar negara,” Dwi melanjutkan.

Atas dasar itu, Dwi menyebut keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia seakan-akan menjadi keadilan sosial bagi oligarki Indonesia.

Vinkmag ad
Bagikan ini :

M Reza Fahlipi

Penulis

Read Previous

Hari Pahlawan, Pengendara di Banjar Heningkan Cipta

Read Next

Pemilik Warung Ketangkap Jual Obat Ilegal

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *