Kenapa 2 Wanita Terdakwa Sabu Kotabaru Trauma?

Ubay dan Marlin (tengah) saat konferensi pers hasil tangkapan di Mapolres Kotabaru. Foto: istimewa

Siti Arbayah alias Ubay (34) dan Hairiamah alias Marlin (40) masih cemas ketika tinggal di rumahnya. Mereka trauma ditangkap polisi tanpa barang bukti. Satresnarkoba Polres Kotabaru menangkap Ubay dan Marlin pada 20 Februari 2020.

Lantaran trauma, Ubay dan Marlin memutuskan tinggal di rumah keluarganya di Kecamatan Satui, Kabupaten Tanah Bumbu. “Untuk sementara ke tempat keluarga, menghindari sesuatu yang enggak diinginkan. Kalau apa-apa, ulun kan masih dalam pengawasan orang,” kata Marlin kepada banjarhits.com.

“Ibaratnya trauma tinggal di rumah itu, untuk sementara. Mengamankan diri, ibaratnya yang tidak ada, diada-adakan itu nah. Kita ini kan orang tidak pintar, kalau terjadi sesuatu, kita kada bisa mengelak,” Marlin melanjutkan.

Menurut Marlin, kepergiannya ke Satui bukan menghindari proses hukum yang masih berlanjut. Maklum, JPU Kejari Kotabaru memohon kasasi atas vonis bebas yang diketuk majelis hakim Pengadilan Negeri Kotabaru pada Rabu (4/11/2020). Padahal, JPU menuntut kedua wanita itu hukuman 8 tahun penjara.

“Kembali saja (ke Kotabaru, red), cuma menenangkan ke keluarga. Kami kan ibaratnya habis masuk kemarin, bebas. Siapa tahu ada kedengkian orang atau iri, maka kita menghindar untuk sementara, takut tinggal di rumah. Bukan melarikan diri. Rasa was-was pak ai,” kata Marlin.

M. Hafidz Halim, pengacara dari Ubay dan Marlin.

Ia khawatir dijebak lagi oleh orang lain. Padahal, Marlin tidak tahu apa-apa ketika polisi menggerebek rumah. “Memangnya kadada (narkoba, red),” ujar Marlin.

Adapun kuasa hukum dari Ubay dan Marlin, M. Hafidz Halim, berkata penangkapan terhadap kedua kliennya belum memenuhi unsur dua alat bukti karena hanya pengakuan satu saksi. Apalagi, kata Halim, pengakuan saksi Zulhaidir sering berubah-ubah hingga tak mengenal Ubay.

“Begitu juga saksi yang dihadirkan jaksa penuntut umum, Fitriadi alias Ifit juga tidak mengenal kedua terdakwa. Barang sitaan yang disita dari Hairiamah dan Siti Arbayah tidak berkorelasi dengan dakwaan atas tuduhan saksi Zulhaidir,” ujar Halim.

BACA JUGA  DPRD Kalsel Jarang Serap Aspirasi ke Pelosok Kotabaru

Alhasil dalam pleidoi, Hafidz Halim dan tim pengacara meminta majelis hakim untuk membebaskan kedua terdakwa.

Sidang putusan dipimpin oleh ketua majelis hakim Eko Murdani Yus Simanjuntak, dan dua hakim anggota Masmur Kaban dan Dias Rianingtyas. Putusan ini kontradiktif atas tuntutan JPU Kejari Kotabaru yang menuntut kedua terdakwa 8 tahun penjara.

Dua orang wanita itu terdakwa dugaan kasus kepemilikan narkoba jenis sabu-sabu yang ditangkap Satresnarkoba Polres Kotabaru di Gunung Rely, Jalan Minapuri Desa Dirgahayu, Kecamatan Pulau Laut Utara pada 20 Februari 2020.

“Menyatakan bahwa terdakwa Hairiamah tidak terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana menawarkan untuk dijual, menjual, membeli, menerima, menjadi perantara dalam jual beli, menukar, atau menyerahkan narkotika golongan 1 bukan tanaman,” demikian dikutip banjarhits.com.

Bunyi petikan itu sama terhadap terdakwa Siti Arbayah alias Ubay. Menurut kuasa hukum kedua terdakwa, M. Hafidz Halim, putusan ini membebaskan kedua terdakwa dari dakwaan tunggal jaksa penuntut umum. Dalam salinan yang sama, hakim memerintahkan kedua terdakwa dikeluarkan dari tahanan setelah putusan diucapkan; dan memulihkan hak-hak terdakwa, harkat, dan martabat.

Atas putusan ini, Kasipidum Kejaksaan Negeri Kotabaru Rizki Purbo Nugroho, langsung menyatakan permohonan kasasi. “Kita kasasi,” tulis Rizki.

Kedua terdakwa disidang dalam berkas terpisah. Siti Arbayah berkas perkara nomor 149/Pid.Sus/2020/PN ktb; dan Hairiamah berkas perkara nomor 153/Pid.Sus/2020/PN ktb.

Vinkmag ad
Bagikan ini :

diananta putra sumedi

Editor

Read Previous

Cara Pantomimer Galang Dana Kebakaran Kotabaru

Read Next

Pilkada Tanah Bumbu 2020: Gengsi Politik dan Bisnis

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *