Divonis Seumur Hidup, Siapa Sosok Habibi di Penjara?

Habibi alias Habib saat dihadirkan di Mapolda Kalsel. Foto: dok banjarhits.id

Pengadilan Negeri Kelas I Banjarmasin mengetuk vonis pidana seumur hidup terhadap Said Akhmad Zais Assegaf alias Habibi alias Habib, dan Jayadi. Keduanya terbukti bersalah melanggar pasal 114 ayat 2 UU Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

“Sehingga dihukum pidana seumur hidup,” demikian kata ketua majelis hakim Mochamad Yuli Hadi dikutip Antara, Senin (26/10/2020). Anggota Ditresnarkoba Polda Kalimantan Selatan meringkus Habib pada 18 Januari 2020. Barang buktinya tak main-main: 32 kilogram sabu-sabu.

Lalu siapa sosok Habibi di balik penjara?

Di penjara, Habibi sering disapa Habib karena wajahnya keturuan Arab. Saya dan Habibi pernah menghuni satu ruangan di Sel Isolasi II Rumah Tahanan Polda Kalimantan Selatan.

Kami hidup bersama di balik tembok derita selama kira-kira 10 hari. Sel sempit nan gerah ini diisi sembilan tahanan: saya, Habibi, Amat Boy, Hendra, Adi ‘Kapten’ Syahputra, Eko Darwanto, Aswan, Fauzi, dan Rahmadi.

Kami sama-sama masuk sel Isolasi II pada 4 Mei 2020. Dari sembilan orang ini, saya dan Rahmadi yang berstatus tahanan baru. Sisanya tahanan lama yang melanggar aturan penjara.

Habibi berstatus tahanan narkoba yang dipindah dari Sel Bali ke Sel Isolasi II karena kepergok bawa ponsel. Aturan di penjara melarang tahanan bawa ponsel dan rokok. Jika ketahuan saat razia, siap-siap diangkut ke sel isolasi sebagai bentuk hukuman disiplin para tahanan.

Habibi semula menempati Sel Bali di lantai tiga rumah tahanan itu. Tahanan narkoba paling mendominasi sel-sel di Rutan Polda Kalsel. Setelah enam tahanan di sel isolasi II dipindah ke sel-sel lain, tersisa saya, Habib, dan Rahmadi.

Kami bertiga sempat tiga hari mengisi sel isolasi II, sebelum satu per satu tahanan baru dijebloskan polisi. Alhasil, sel ukur 2×6 meter ini lama-lama sumpek, gerah, dan panas. Bayangkan, sel sekecil itu diisi sembilan orang.

BACA JUGA  5 Sikap Bela Nabi di Banjarmasin atas Presiden Prancis

Sebagian di antara kami harus tidur dalam posisi kaki menekuk. Berkat jasa Habibi, satu kipas angin akhirnya dipasang di sel Isolasi II. Lumayan, semburan kipas angin bisa mengurangi hawa gerah di dalam penjara.

Habibi sosok pribadi yang taat beribadah, kendati bukan lulusan pondok pesantren. Ia menempuh pendidikan terakhir DIII sekolah keperawatan, setelah lulus SMA di Kota Pelaihari, Kabupaten Tanah Laut.

Habibi bercerita banyak hal kepada saya. Namun, saya tidak membuka semuanya di tulisan ini. Di dalam sel, sosok Habibi pasti opsi tunggal untuk imam salat berjamaah. Ia sering meminta saya untuk salat karena pertolongan itu cuma datang dari Allah SWT.

Selama di Sel Isolasi II, kami tak pernah kelaparan. Maklum, Habibi punya kharisma di mata tahanan lain. Selain itu, Habibi berwajah tampan karena keturunan Arab, dan kurir gede narkoba di Banjarmasin. Doi tak pelit berbagi makanan ke tahanan lain.

Status ini menguntungkan kami, kawan-kawan yang sekamar Habibi. Doi nyaris setiap hari menerima kiriman makanan dari tahanan lain. Alhasil, kami tak pernah kelaparan di dalam sel. Keluargan Habib juga sering mengirimi aneka makanan dalam jumlah banyak.

Awal mula masuk penjara, gerak-gerik diriku memang kerap memicu syakwasangka di kalangan tahanan. Sebagian di antara mereka menduga aku sebagai intel polisi yang ditugaskan masuk penjara untuk mengorek informasi bawah tanah. Sebagian lagi menganggap diriku seorang seniman karena penampilanku yang condong urakan.

Di kalangan bandar dan pemakai narkoba, wajar ada sikap cemas terhadap orang asing seperti diriku. Saya sadar mayoritas mereka punya pengalaman pahit akibat diperalat informan polisi bernama cepu. Sosok cepu paling berkontribusi menjebloskan kolega ke penjara.

BACA JUGA  374 Peserta Demo Tolak UU Ciptaker Dibebaskan

Berkat jasa cepu, polisi sukses menangkap para bandit narkoba, baik kelas kakap dan kelas teri. Sebagian ditangkap karena tukar kepala. Habibi pun mengeluhkan bahwa dirinya ditangkap polisi gara-gara kudanya — sebutan lain daripada kurir– berkhianat. Ia punya firasat buruk sebelum digerebek polisi.

Kepada saya, Habibi bilang bahwa kekayaan yang ia dapat dari bisnis narkoba, seolah-olah semu. Itulah sebabnya, Habibi iklas semua kekayaan ekonominya disita polisi lewat jerat UU Tindak Pidana Pencucian Uang. Kabarnya, kekayaan Habibi senilai Rp 6 miliar disita habis.

Dalam hal urusan asmara, Habibi mengakui banyak didekati kaum hawa. Maklum ia dikarunia wajah tampan. Toh, ia tak ingin buru-buru menikah karena ada satu keinginan yang belum tercapai. Habibi ingin merintis usaha bisnis pakaian untuk calon istrinya.

Sebelum bisnis ini terkabul, ia tidak keburu menikah. Sebab, Habibi ingin istrinya kelak punya kesibukan bisnis yang halal.

Dua pekan lalu, saya coba melipir ke Rutan Polda Kalsel untuk bersua Habibi. Tapi, kata penjaga rutan, Habibi sudah dipindah ke Lapas Kelas IIA Banjarmasin. Habibi, saya mendoakan kamu diberi kekuatan lahir batin selama menjalani masa-masa sulit hukuman badan. Tuhan sedang menguji kamu.

Banjarmasin, 27 Oktober 2020,

Diananta P. Sumedi

(CEO banjarhits.com dan eks narapidana pers)

Vinkmag ad
Bagikan ini :

diananta putra sumedi

Editor

Read Previous

Mahasiswa di HSU Ketangkap Bawa Narkoba

Read Next

2 Mahasiswa Tersangka Demo, Polda Kalsel: Tidak Ditahan

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *