2 Mahasiswa Tersangka Demo, Polda Kalsel: Tidak Ditahan

Dua mahasiswa yang dipanggil penyidik Ditreskrimum Polda Kalsel, Senin (26/10/2020). Foto: Aken/banjarhits.com

Penyidik Direktorat Reskrimum Polda Kalimantan Selatan resmi menetapkan dua mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat, Ahdiyat Zairullah dan Renaldi sebagai tersangka. Keduanya dianggap melanggar Pasal 218 KUHP.

Menurut Kabid Humas Polda Kalsel, Kombes Mochamad Rifai, penyidik sudah menerbitkan surat pemberitahuan dimulainya penyidikan (SPDP) ke Kejaksaan Tinggi Kalimantan Selatan.

“Dari 16 mahasiswa yang diperiksa, dua orang sudah dikeluarkan SPDP. Proses sidik, pemberitahuan ke kejaksaan,” kata Kombes M Rifai kepada banjarhits.com, Selasa (27/10/2020).

Namun, Rifai menegaskan kedua mahasiswa ini tidak ditahan karena ancaman hukumannya maksimal 4 bulan. “Enggak ditahan karena ancama hukumannya empat bulan. Kamu kan sudah tahu,” kata Kombes M Rifai.

Selain itu, kata dia, penyidik sudah memintai keterangan Wakil Rektor II ULM dan Wakil Rektor III UIN Antasari. Ihwal kemungkinan Kapolda Kalsel Irjen Nico Afinta mengeluarkan diskresi atas kasus ini, Rifai enggan menjelaskan gamblang. “Enggak tahu, mas,” katanya.

Kuasa hukum dari mahasiswa Ahdiyat Zairullah dan Renaldi, Muhamad Pazri, mengatakan dua kliennya dipanggil polisi terkait dugaan pelanggaran pasal 218 KUHP. Penyidik menyodorkan 20 pertanyaan kepada dua orang mahasiswa tersebut.

Secara umum, kata dia, substansi pertanyaan penyidik masih kabur yang sifatnya dituduhkan kepada dua orang kliennya. Menurut Pazri, bentuk dari peringatan agar demonstrasi bubar, tidak diterima secara langsung oleh dua orang ini.

Padahal, kata Pazri, bentuk peringatan semacam lisan dan tertulis. Di lapangan, ia menyebut, peringatan lisan sebatas membujuk, baik dari Kapolda Kalsel Irjen Nico Afinta dan Danrem 101/Antasari Brigjen Firmansyah.

“Jadi substansi itu dikaitkan pasal 218, baik itu berkumpul, berkerumun, yang diperingatkan pihak berwenang yang selama tiga kali itu tidak diindahkan. Menurut kami belum terpenuhi secara substantif,” kata M Pazri kepada wartawan di Mapolda Kalsel, Senin (26/10/2020).

BACA JUGA  Pasien Covid-19 Meninggal di Batola Jadi 10 Orang

Ia khawatir penyidikan ini jadi preseden buruk gerakan mahasiswa di Kalimantan Selatan. “Ini preseden buruk ke depan. Jangan sampai di Kalsel gara-gara perkara ini, tidak ada lagi unjuk rasa,” pesan Pazri.

Pasal 218 KUHPBarang siapa pada waktu rakyat datang berkerumun dengan sengaja tidak segera pergi setelah diperintah tiga kali oleh atau atas nama penguasa yang berwenang, diancam karena ikut serta perkelompokan dengan pidana penjara paling lama empat bulan dua minggu atau pidana denda paling banyak sembilan ribu rupiah.

Vinkmag ad
Bagikan ini :

diananta putra sumedi

Editor

Read Previous

Divonis Seumur Hidup, Siapa Sosok Habibi di Penjara?

Read Next

Update Covid-19 Batola: 642 Orang Sembuh

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *