Diperiksa Polda Kalsel, 2 Mahasiswa Masih Saksi

Dua mahasiswa yang dipanggil penyidik Ditreskrimum Polda Kalsel, Senin (26/10/2020). Foto: Aken/banjarhits.com

Kuasa hukum dari mahasiswa Ahdiyat Zairullah dan Renaldi, Muhamad Pazri, mengatakan dua kliennya dipanggil polisi terkait dugaan pelanggaran pasal 218 KUHP. Penyidik menyodorkan 20 pertanyaan kepada dua orang mahasiswa tersebut.

Secara umum, kata dia, substansi pertanyaan penyidik masih kabur yang sifatnya dituduhkan kepada dua orang kliennya. Menurut Pazri, bentuk dari peringatan agar demonstrasi bubar, tidak diterima secara langsung oleh dua orang ini.

Padahal, kata Pazri, bentuk peringatan semacam lisan dan tertulis. Di lapangan, ia menyebut, peringatan lisan sebatas membujuk, baik dari Kapolda Kalsel Irjen Nico Afinta dan Danrem 101/Antasari Brigjen Firmansyah.

“Jadi substansi itu dikaitkan pasal 218, baik itu berkumpul, berkerumun, yang diperingatkan pihak berwenang yang selama tiga kali itu tidak diindahkan. Menurut kami belum terpenuhi secara substantif,” kata M Pazri kepada wartawan di Mapolda Kalsel, Senin (26/10/2020).

Pazri berharap penyidik lebih bijak dan selektif dalam perkara demonstrasi itu. Mengacu UU, ia sadar ada ketentuan bahwa unjuk rasa sampai pukul 18.00, dan mahasiswa melewati batasan tersebut.

Ia khawatir penyidikan ini jadi preseden buruk gerakan mahasiswa di Kalimantan Selatan. “Ini preseden buruk ke depan. Jangan sampai di Kalsel gara-gara perkara ini, tidak ada lagi unjuk rasa,” pesan Pazri.

“Ada hal-hal tertentu di lapangan. Bentuk gerakan kawan-kawan yang sifatnya aspriasi bukan di Kalsel, aspirasi nasional. Buruh bergerak, rakyat bergerak. Pak Kapolda Kalsel lebih bijak, dan memunculkan yang namanya diskresi,” ucapnya.

Menurut dia, terperiksa Ahdiyat dan Renaldi masih berstatus saksi. Ahdiyat sudah menerima SPDP alias Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan. Kasus ini, kata Pazri, bentuknya penyidikan dan bukan pengaduan masyarakat.

“Langsung laporan polisi, artinya polisi sudah punya dua bukti permulaan versi penyidik.”

BACA JUGA  Polisi Lepas Massa Penolak UU Cipta Kerja

Direktorat Reskrimum Polda Kalimantan Selatan memanggil dan memeriksa empat orang terkait demonstrasi menolak Omnibus Law UU Cipta Kerja. Mereka memenuhi panggilan penyidik di kantor Ditreskrimum, Mapolda Kalsel pada Senin (26/10/2020).

Menurut seorang mahasiswa UIN Antasari, Fahrianoor, ada empat orang yang dimintai keterangan polisi pada Senin (26/10). Mereka terdiri atas Ahdiyat Zairullah, Renaldi, Wakil Rektor III Universitas Lambung Mangkurat, dan Wakil Rektor III UIN Antasari.

Vinkmag ad
Bagikan ini :

diananta putra sumedi

Editor

Read Previous

Posting HTI, Despianoor Divonis 2 Tahun 6 Bulan

Read Next

Bupati Banjar: Tak Perlu Unjuk Rasa

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *