Harga Sayuran Anjlok, Petani di Nagara Menjerit

Lahan pertanian di Kabupaten HSS, Kalsel. Foto: Reza/banjarhits.com

Petani di Nagara, Kecamatan Daha Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, kembali gigit jari. Sebab harga komoditas pertanian macam terong, mentimun, cabe besar, gambas, labu, dan lainnya cenderung mengalami penurunan harga yang drastis hingga 75 persen dari harga normal.

Labu seberat 5 kilogram yang sebelumnya dijual harga Rp 5 ribu perbiji, kini hanya dihargai Rp 3 ribu saja. Demikian juga terong yang cuma laku Rp 500 perkilonya, dari harga sebelumnya yang sempat bertengger Rp 2.500 per kilogram. Adapun cabe Tiung Tanjung seharga Rp 10 ribu per kilogram.

Seorang Petani asal Nagara, Bakeri, sangat kekecewa kepada Pemkab HSS dan wakil rakyat di DPRD Kabupaten HSS yang terkesan abai terhadap nasib petani. Padahal, kata Bakeri, penurunan harga komoditas pertanian sudah sejak awal tahun 2020.

Menurut dia, petani menderita kerugian besar akibat pandemi Covid-19 dan anjloknya harga komoditas pangan di pasaran. “Sekilo ubi Nagara hanya laku dijual Rp 2 ribu. Sedangkan semangka berada di kisaran seribu rupiah perkilonya,” kata Bakeri kepada banjarhits.com, Jumat (23/10/2020).

Ada dua komoditas andalan di Daha Selatan, yaitu ubi nagara dan semangka. Namun kedua komoditas unggulan ini juga mengalami nasib yang sama dengan komoditas sayuran (hortikultura) lainnya.

“Kami berharap kepada pemerintah agar segera turun tangan memberikan solusi terbaik bagi petani lokal ini. Jika terus dibiarkan seperti ini, saya khawatir para petani akan gulung tikar, bahkan tidak akan bertanam lagi karena dampak kerugian,” tambah Bakeri.

Sementara itu, pelaksana tugas Gubernur Kalimantan Selatan Rudy Resnawan melalui Surat Edaran Nomer 521.25/1828-Horti/Dinas TPH tertanggal 26 September 2020, mewajibkan kepada ASN membeli produk pertanian lokal.

Namun, langkah yang diambil oleh Pemprov Kalsel ini tidak berdampak signifikan mendongkrak nilai jual komoditas pertanian. Sebab, masih ada komoditas yang dipasok dari provinsi lain. Misalnya, cabe yang didatangkan dari Sulawesi, sehingga menekan harga jual cabe lokal di pasaran.

BACA JUGA  209.884 Ha Lahan Pertanian di Kalsel Rusak Akibat Banjir

Pada pertengahan Agustus dan Oktober 2020, petani lokal sempat bernafas lega setelah Serikat Petani Indonesia (SPI) Provinsi Kalimantan Selatan memborong berbagai macam komoditas petani dengan harga lebih tinggi dari pasaran.

Perwakilan SPI Kalsel Dwi Putra Kurniawan saat dihubungi banjarhits.com via ponsel mengatakan, pemerintah daerah hendaknya bertindak cepat ketika harga komoditas sayur dan buah petani lokal anjlok.

Menurut dia, perlu segera intervensi harga, jangan hanya bertindak cepat ketika harga komoditas pertanian melambung tinggi. “Pemerintah Daerah harus komitmen dan menjalankan langkah-langkah strategis untuk menyelamatkan petani dari dampak kerugian yang besar,” pesan Dwi Putra Kurniawan.

Ia menegaskan, apa yang telah dilakukan SPI dalam upaya membantu para petani lokal hendaknya diikuti oleh masing-masing pemerintah kabupaten di Provinsi Kalimantan Selatan.

Vinkmag ad
Bagikan ini :

M Reza Fahlipi

Penulis

Read Previous

Dinkes Batola Mengeluh Minim Tenaga Kesehatan

Read Next

Transaksi Uang Digital Disebut Halal

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *