Dari Balik Penjara: Despianoor di Mata Wartawan

Terdakwa ITE, Despianoor Wardani di dalam Rutan Polres Kotabaru. Foto: LBH Pelita Umat

Pria berperawakan tinggi dan ceking itu duduk selonjor di pojok selasar tengah Rumah Tahanan Polres Kotabaru. Sore menjelang petang pada Selasa pekan pertama di bulan Juni 2020, polisi menjebloskan pria ini beberapa jam setelah kawannya, Rusdihamzah, yang lebih dulu masuk bui.

Ia memakai kaos hitam dipadu celana panjang hitam. Kaosnya bertuliskan: “Indonesia Tanpa Pacaran”. Mendapati tahanan baru, tahanan lama bergegas mengerumuni pria ini untuk mengorek informasi perihal kasus yang menjerat. Beberapa jam kemudian, kumandang adzan Maghrib sayup-sayup menggema dari luar penjara.

Sebagian tahanan muslim mulai menggelar sajadah di selasar tengah penjara. Pertanda salat Maghrib berjamaah lekas dimulai. Tahanan yang tidak salat, melipir masuk ke dalam lorong penjara atau kamar-kamar sel.

Melewati lorong penjara yang penuh orang, pria kurus tadi melangkah pelan masuk ke kamar sel IV. Doi hendak ambil air wudhu, lalu salat magrib berjamaah. Di sana, saya berdiri tepat di depan pintu kamar sel. Doi menyapaku seraya menyungging senyum: “Mas yang wartawan itu?”

“Iya, kok tahu?” aku menjawab pertanyaan si pria kurus itu. “Saya tahu karena Mas pakai kaos yang mirip di foto, dan rambut panjang. Donasinya sudah terkumpul Rp 10 juta, mas. Saya Despianoor,” kata pria ceking bernama lengkap Despianoor Wardani (22 tahun) itu mengenalkan dirinya.

Aku kaget mendengar pengakuan Despianoor. Apa yang diucapkan Despi memang tepat karena saya sempat difoto wartawan di sela pemeriksaan sebagai tersangka di Direktorat Reskrimsus Polda Kalimantan Selatan pada 4 Mei 2020. Saat itu, saya masih berambut panjang seraya pakai kaos hitam bergambar wajah orang dibungkam.

Kaos inilah yang saya pakai ketika bersua pertama kali dengan Despianoor pada 2 Juni 2020 di Rutan Polres Kotabaru. Sebelum dijebloskan ke bui, Despianoor sempat membaca-baca kasus hukum terkait UU Informasi dan Transaksi Elektronik.

Saya masuk Rutan Polres Kotabaru pada 20 Mei 2020. Kebetulan kasus ITE yang di Banjarmasin, Despianoor mendapati jejak digital pemberitaan kasus saya: wartawan yang dipenjara karena sengketa jurnalistik.

Saat itu, Despianoor belum dimasukkan ke kamar sel karena ia menolak tandatangan surat penahanan yang disodorkan penyidik Satreskrim Polres Kotabaru. Alasannya, Despi menunggu kehadiran pengacara LBH Pelita Umat yang sudah ia percayai.

BACA JUGA  Covid-19 Bertambah Lagi 8 Orang di Batola

Lantaran saat itu LBH Pelita Umat belum tiba di Kotabaru, Despi menolak mentah-mentah tandatangan surat penahanan. Toh, polisi tetap menjebloskan Despi ke rumah tahanan, namun belum dimasukkan ke kamar sel. Untuk sementara, Despi ditaruh di selasar tengah rumah tahanan. Despi bahkan menolak pengacara yang disodorkan oleh penyidik.

Seperti tahanan baru lainnya, Despi harus melewati ritual penggundulan rambut. Tiga hari tidur di selasar tengah penjara, polisi akhirnya menempatkan Despianoor ke kamar sel II. Penempatan kamar sel bagi tahanan baru ini untuk memudahkan pendataan saat apel.

Tahanan polres ditempatkan di kamar sel. Adapun tahanan jaksa menempati lorong penjara atau kamar V dan VI. Dua kamar ini sengaja dikhususkan untuk tahanan jaksa dan narapidana.

Maklum, kondisi Rutan Polres Kotabaru kala itu penuh sesak manusia karena Lapas Kelas IIA Kotabaru belum menerima kiriman tahanan jaksa dan narapidana akibat Covid-19. Sekalipun Despi menghuni sel II, tapi ia tetap saja sulit mendapat TKP– sebutan posisi tidur di rumah tahanan.

Kami yang tahanan baru tentu kesulitan mendapat TKP karena berebut dengan tahanan lain yang lebih dulu menempatinya. Alhasil, kami menunggu kebaikan tahanan lain untuk sudi bergantian tidur. Saya kadang kala tidur seraya duduk di lorong penjara.

Beberapa hari kami saling bersua, kesan pertama yang saya tangkap dari Despianoor: pendiam, pemalu, taat beribadah, teguh pendirian, dan jauh dari kesan radikal. Ia seorang muslim yang komitmen memagang teguh ajaran Islam. Bahkan, Despi menjaga betul auratnya.

Despianoor berlatar puluhan narapidana yang hendak dieksekusi ke Lapas Kelas IIA Kotabaru. Foto: LBH Pelita Umat

Selama 2,5 bulan kami hidup bersama di penjara, saya tidak sehari pun melihat Despi lepas baju atau mengenakan celana pendek di atas lutut. Hal yang sangat langka dalam kehidupan penjara. Padahal, mayoritas tahanan pasti pernah lepas baju karena hawa gerah dan panas.

Urusan mandi, Despi juga masih memperhatikan aurat. Ia tidak pernah mandi dalam kondisi telanjang. Despi mandi dalam kondisi kaki dibalut celana panjang. Celana yang basah ini biasanya dijemur lagi, lalu dipakai ketika celana satunya basah saat mandi. Itulah keteguhan Despi, sosok pria yang menjaga auratnya.

BACA JUGA  AJI Balikpapan Biro Banjarmasin Resmi Berdiri

Awal menghuni penjara, Despi merasa beberapa tahanan agak mengusik kehadirannya. Usut punya usut, kehadiran Despi yang masuk penjara gara-gara upload konten Hizbut Tahrir Indonesia dan Khilafah, menjadi bahan gunjingan tahanan lain.

Beberapa kali tahanan lain merisak Despianoor. Saya pun menyarankan Despi agar tidak diskusi HTI dan khilafah di penjara. Sebab, penjara tempat orang-orang bereputasi kriminal, yang lebih mengandalkan otot ketimbang adu pemikiran. “Penjara bukan tempat untuk adu argumentasi agama,” begitu saya menyarankan ke Despianoor.

Saya harus mengakui bahwa ada sebagian tahanan yang sinis terhadap Despianoor dan Rusdihamzah. Hal ini lumrah karena mereka hidup di tengah beragam karakter manusia yang punya catatan kriminal.

Terlepas dari pro kontra sosok Despianoor dan Rusdihamzah, saya tetap menganggap mereka berdua kawan akrab saya di penjara. Keduanya sering mengajarkan baca Alquran bagi tahanan yang belum mahir baca kitab suci umat Islam ini.

Ketika Guru — saya lupa nama si narapidana ini– yang biasa jadi imam salat sudah dieksekusi ke Lapas Kelas IIA Kotabaru, Rusdihamzah sempat mengisi posisi imam salat. Belakangan, posisi iman salat di penjara diambil alih Nasir, tahanan kasus narkoba.

Setahu saya, Despianoor menolak dijadikan imam salat karena kurang percaya diri. Despianoor yang berwatak pendiam itu condong mengajar ngaji dan diskusi agama secara pelan-pelan. Despi sering bertukar pikiran ke saya, Syahbudin, dan Rusdihamzah.

Kami berempat memang tahanan kasus UU Informasi dan Transaksi Elektronik. Kami membahas banyak hal, mulai kasus masing-masing sampai perspektif keagamaan. Lantaran saya lemah pengetahuan agama, saya tak malu minta pendapat soal agama ke Despianoor, Rusdihamzah, dan Syahbudin.

Di penjara, Rusdihamzah dan Despianoor pernah menginisiasi ngaji bareng selepas salat Magrib berjamaah, meskipun pesertanya tak banyak.

Sesekali, Despi pernah menitip surat ke saya untuk dikirimkan ke saudaranya. Saat itu, saya satu-satunya tahanan yang mengawali sidang offline di Pengadilan Negeri Kotabaru saat pandemi Covid-19. Karena sidang offline, saya bisa bersua istri, kawan, dan pengacara di PN Kotabaru.

Surat titipan dari Despi ini difoto dulu oleh istriku, lalu dikirim lewat nomer WhatsApp yang tertulis di kertas. Saat itu, sulit bagi Despianoor, Rusdihamzah, dan Syahbudin untuk berkomunikasi ke saudara atau kolega karena statusnya tahanan kasus ITE. Satu-satunya jalan, mereka menitip surat ke saya untuk dikirim ke nomer WhatsApp tujuan.

BACA JUGA  PSU, Ruang Publik, dan Kewarasan Demokrasi

Seingatku, kala itu Despi ingin dibelikan pasta gigi dan sabun cair karena ia kehabisan. Apa daya, surat ini tak pernah sampai ke saudaranya karena nomor WhatsApp tidak aktif. Alhasil, istriku berinisiatif membeli sendiri untuk Despianoor.

Untuk menekan jenuh, Despi menulis catatan harian di lembaran kertas bekas nasi bungkus. Ia memotong kecil-kecil kertas nasi bungkus ini, lalu diikat karet. Namun, Despi keberatan isi catatan itu dibaca temannya, termasuk saya. Doi kemungkinan malu.

Dua pekan sebelum saya bebas, saya dan Despianoor tidur bersebelahan di lorong penjara. Kami punya TKP di depan kamar sel V dan VI. Despi mengisi TKP yang ditinggalkan Paman Nanang, narapidana kasus narkoba. Setelah punya TKP, Despi tidak lagi tiduran di selasar tengah saat malam hari.

Kami sering berbagi makanan di penjara. Ia menolak jika saya mengepel lantai TKP kami. Urusan ngepel lantai, Despi turun tangan langsung. Saya biasanya diminta mengambil cairan pembersih di kamar sel VI, lalu Despi yang mengepel lantai. Dia sangat menjaga kebersihan lantai.

Toh, sebersih-bersihnya lantai, kami tetap saja terserang penyakit kulit: gatal-gatal. Penyakit gatalan sudah lumrah di penjara. Maklum, penjara tempat banyak orang dengan sanitasi buruk. Kalau penyakit gatal, petugas jaga memberi resep: “Digaruk.”

Ya begitulan buruknya pelayanan medis di penjara. Kebersamaan kita berakhir saat saya bebas pada 17 Agustus 2020, tepat Hari Kemerdekaan RI ke-75. Kami sempat makan wadai bersama pada pagi hari, sebelum saya bebas pukul 09.15 wita.

Jumat dua pekan lalu, aku mendengar kabar dari penjara bahwa Despianoor dituntut lima tahun penjara. Sungguh, saya tak menduga Despi bakal menerima tuntutan selama itu. Sahabat dan saudaraku, Despi, bersabarlah karena Tuhan sedang menguji dirimu. Aku yakin majelis hakim akan mengetuk vonis seadil-adilnya untuk kamu. Tabik.

Banjarmasin 24 Oktober 2020,

Diananta P. Sumedi

(CEO banjarhits.com dan eks narapidana pers)

Vinkmag ad
Bagikan ini :

diananta putra sumedi

Editor

Read Previous

Transaksi Uang Digital Disebut Halal

Read Next

Lagi, Pasien Covid-19 di Batola Bertambah

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *