Kasus ITE, Despianoor Dituntut 5 Tahun Penjara

Sidang secara online kasus ITE terdakwa Despianoor Wardani. Foto: LBH Pelita Umat

Jaksa Penuntut Umum pada Kejaksaan Negeri Kotabaru menuntut Despianoor Wardani (22 tahun) hukuman pidana 5 tahun plus denda Rp 20 juta subsider 3 bulan kurungan.

Sidang tuntutan terhadap Despianoor digelar pada Kamis (15/10/2020) secara online di Pengadilan Negeri Kotabaru, kantor Kejari Kotabaru, dan Rutan Polres Kotabaru. Despianoor seorang terdakwa kasus Informasi dan Transaksi Elektronik yang didakwa pasal 45A Ayat 2 juncto Pasal 28 Ayat (2) UU Informasi dan Transaksi Elektronik.

Kuasa hukum terdakwa, Janif Zulfikar, mengatakan jaksa menuntut Despianoor hukuman penjara 5 tahun plus denda Rp 20 juta subsider 3 bulan kurungan. “Seingat saya (tuntutan, red) 5 tahun plus denda Rp 20 juta subsider 3 bulan saja. Yang memberatkan dia dianggap berbelit-belit saat pemeriksaan,” kata Janif Zulfikar kepada banjarhits.com, Jumat (16/10/2020).

Janif sejatinya keberatan jika terdakwa Despianoor dianggap berbelit-belit. Sebab, kata dia, sidang digelar online sehingga suara tidak jelas alias putus-putus saat tanya jawab.

“Jawabnya banyak putus-putus, dikiranya berbelit-belit. Kita bingung juga, offline enggak dikasih, tapi kita ikutin online dibilang berbelit-belit padahal putus-putus. Jadi ya itu kondisinya,” ujar Janif.

Adapun poin yang meringankan karena terdakwa sebagai tulang punggung keluarga. Setelah tuntutan, pihaknya menyiapkan materi pleidoi saat sidang pada Senin (19/10/2020). “Masih dalam proses (pledoi, red). Kami optimis bisa karena terbiasa nyusun pleidoi, mau waktunya terbatas atau tidak,” kata Janif.

Janif jelas keberatan atas tuntutan ini karena tidak sebanding dengan kegiatan dakwah. Ia membandingkan tuntutan terhadap dua orang terdakwa penyiraman air keras ke Novel Baswedan.

Ia berharap jangan sampai gara-gara dakwah dintuntut 5 tahun, sementara menyiram muka orang pakai air keras cuma dituntut 1 tahun. “Cobalah dipikir pakai nalar. Enggak usah pakai dalil hukum, pakai nalar saja. Orang dakwah dituntut lima tahun, sementara orang menyiram air keras ke muka orang lain sampai mata buta dintuntut satu tahun. Pleas deh gitu loh,” kata dia.

BACA JUGA  Kebakaran Rumah Guru Hanguskan Mobil dan 2 Motor

Mbok yo pakai nalar. Yang dirugikan siapa? Negara mana yang terkoyak, suku mana yang pecah belah. Kita pecah belah gara-gara Omnibus Law, pecah belah gara-gara penista agama, bukan gara-gara Despi. Kalau dianggap mengadu domba, domba siapa yang diadu?” kata Janif.

Menurut dia, terdakwa cuma membagi tulisan-tulisan orang lewat facebook.

Terdakwa sejatinya sempat bebas saat sidang putusan sela pada Rabu (9/9/2020). Majelis hakim PN Kotabaru yang diketuai Christina Endarwati serta hakim anggota Meir Elisabeth Batara Randa dan Eko Mardani Indra Yus, sepakat mengabulkan eksepsi kuasa hukum Despi. Saat itu, Despi didakwa pasal 155 KUHP.

Selain KUHP, jaksa mendakwa Despi pakai Pasal 45A Ayat 2 UU ITE. Drama permasalahan hukum yang dihadapi Despianoor bermula dari artikel yang diposting melalui akun facebook https://web.facebook.com/despii.

Terdakwa menguplod artikel di antaranya: (1) Menolak Papua Lepas dari Indonesia; (2) HTI Menolak Kenaikan BBM; (3) HTI Menolak Kenaikan Tarif Dasar Listrik; (4) HTI Menolak Asing Kelola SDA Indonesia; (5) HTI Tolak LGBT; (6) HTI Tolak Liberalisasi Migas; (7) Solidaritas HTI Terhadap Muslim Suriah; (8) Aksi HTI tolak Komunis; (9) Aksi HTI Solidaritas Muslim Rohingya; (10) HTI Tolak Negara Penjajah Amerika; (11) Menolak Pemerintah Lepas Tangan Soal Kesehatan; (12) HTI Sadarkan umat tentang Khilafah; dan (13) HTI Menolak Perdagangan yang merugikan Rakyat.

Vinkmag ad
Bagikan ini :

diananta putra sumedi

Editor

Read Previous

Petani Kalsel Pasang Orang-orangan saat Hari Pangan Sedunia

Read Next

Razia Warung Remang di HST, 16 Wanita Diciduk

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *