Teluk Mendung Kehilangan Habitat Bekantan

Hamparan sawah di kawasan Teluk Mendung, Banjarmasin. Foto: dok banjarhits.id

Ratusan ekor Bekantan dulu pernah hidup bebas di Kota Banjarmasin, tepatnya di Teluk Mendung. Kawasan ini sempat menjadi habitat asli hewan berjuluk Nasalis Larvatus di ibu kota Kalsel, selain di Pulau Kembang. Waktu berjalan, pembangunan berlangsung di mana-mana. Kini populasinya makin berkurang.

Anang Aini (45 tahun) ingat betul, kala umurnya remaja, Teluk Mendung masih hutan belantara. Bekantan dari usia anak hingga dewasa tak sukar ditemukan. Cukup keluar dari teras rumah, beberapa ekor hewan berhidung mancung ini sudah bergelantungan dari pohon gayam ke pohon lainnya.

“Kira-kira lebih seratus ekor di sini aja. Banyak pohon gayam dan rambai yang jadi makanan kesukaan Bekantan,” ujar warga asli Teluk Mendung ini kepada banjarhits.id.

Teluk Mendung merupakan sebuah wilayah permukiman sekaligus sawah warga yang berlokasi di ujung selatan Kota Banjarmasin. Tepatnya di Kelurahan Mantuil, Banjarmasin Selatan.

Letaknya diapit sungai besar, pabrik-pabrik dan Pelabuhan Bawang Mantuil. Aksesnya payah karena harus menjajal jalan setapak dengan ukuran tak lebih dari dua meter. Wartawan banjarhits.id, Donny Muslim melihat langsung kondisi terakhir kawasan Teluk Mendung.

Kata Anang, keadaan dulu jauh berbeda dengan sekarang. Rumah-rumah warga pendatang banyak didirikan karena tergiur bertani dan membuka sawah. Pohon-pohon ditebangi. Bekantan mulai berlarian mencari tempat lain, lalu mati.

“Kebanyakannya begitu. Ada yang nggak tahan sama tempat baru. Ada juga yang dimakan anjing karena di daerah sini banyak pabrik yang dikawal anjing penjaga. Kasihan sekali,” ceritanya.

Jika dihitung-hitung, Anang cuma berani memperkirakan jumlah terkini Bekantan di Teluk Mendung cuma satu ekor. “Yang pasti tinggal satu ekor yang terlihat. Itu pun yang jantan. Yang lain saya tidak tahu nasibnya seperti apa,”ceritanya.

BACA JUGA  4 Proyek Strategis di Kalsel Ditawarkan ke Investor Korea Selatan

Ia menaruh harapan agar pemerintah daerah agar memperhatikan kawasan Teluk Mendung. Setidaknya, sesekali menjenguk wilayah yang punya catatan sejarah tentang eksistensi Bekantan.

Anang Aini sendiri punya dua opsi: segera evakuasi Bekantan yang tersisa, atau jadikan kawasan Teluk Mendung sebagai kawasan konservasi kecil-kecilan. Agar suatu saat wilayah ini tak bisa diganggu eksistensinya.

“Yang ada ini kan jantan. Tambah betinanya. Biar populasinya bisa berkembang lagi. Intinya jangan sampai punah gara-gara pembangunan,” tandasnya.

Vinkmag ad
Bagikan ini :

diananta putra sumedi

Editor

Read Previous

2021, Honor Tenaga Pendidik di Kalsel Naik

Read Next

WUB Banjarmasin Dilatih Kewirausahaan Wisata

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *