Pencuri Itu Profesi atau Pekerjaan?

Ilustrasi penjara. Foto: Freeimages.com

Wabah virus corona (Covid-19) ibarat dua sisi mata uang. Di satu sisi, Covid-19 bikin kalang kabut denyut kehidupan masyarakat dan pemerintah. Namun di lain sisi, Covid-19 mendatangkan angin segar bagi warga binaan atau narapidana karena memungkinkan bebas lewat program asimilasi dan integrasi.

Lewat Kepmenkumham Nomor M.HH-19.PK.01.04.04 Tahun 2020 yang diteken pada 30 Maret lalu, mengutip situs liputan6.com, sedikitnya sudah 39.876 napi yang dibebaskan hingga 27 Mei 2020. Mereka terdiri dari 37.473 orang napi lewat asimilasi, dan 2.403 orang lewat integrasi.

Sebagian di antara mereka ini kembali melakukan tindak kriminal. Entah kasus pencurian atau penjualan narkoba. Alasan sebagian residivis karena himpitan ekonomi di tengah sulitnya mendapat pekerjaan.

Ulah para residivis itu mengingatkan saya atas ucapan eks narapidana sekaligus seorang ASN di Kalimantan Selatan. Saya berkawan baik dengan ASN ini yang pernah dipenjara enam bulan gara-gara kasus penganiayaan. Medio Maret 2020, saya silaturahmi ke ruang kerja si ASN untuk sekedar berbagi pengalaman selama ia dipenjara.

Maklum, saya ingin mengulik secuil kehidupan penjara karena saat itu sedang disidik polisi gara-gara sengketa karya jurnalistik. Kemungkinan terburuk: penjara.

Di penjara, si ASN menghuni satu sel bersama narapidana pencurian. “Kalau pencuri, nanti keluar penjara, mancuri lagi. Memang kerjanya mencuri, jadi mencuri lagi setelah keluar penjara. Bagi mereka, mencuri itu pekerjaan,” kata si ASN kepada saya.
Saya terbahak seraya geleng-geleng kepala. “Ada yang ketangkap gara-gara mencuri lagi. Masuk lagi.”

Saya teringat film lawas era 1977 berjudul Raja Copet. Organisasi profesi pencopet binaan aktor Benyamin Sueb, ini punya code of ethics ketika mencopet target korban. Di antaranya pantang mencopet waria dan wanita hamil.

CEO banjarhits.com dan eks narapidana pers, Diananta P. Sumedi

Sejak saya diperiksa polisi, saya makin tertarik menguliti kehidupan penjara dengan beragam kisah: kegetiran, siasat, keunikan, dan kekerasannya. Termasuk residivis pencurian yang kembali berulah, setelah bebas penjara lewat program asimilasi di tengah pendemi corona.

BACA JUGA  Tahun Baru Imlek dan Makna Tahun Kerbau

Saya pun akhirnya dijebloskan ke penjara, setelah memenuhi panggilan ketiga sebagai tersangka di Subdit V Ditreskrimsus Polda Kalimantan Selatan pada 4 Mei 2020. Saya ditahan di Rutan Polda Kalsel (4 Mei – 20 Mei 2020) dan Rutan Polres Kotabaru (20 Mei – 17 Agustus 2020).

Lewat 12 kali persidangan, majelis hakim Pengadilan Negeri Kelas II Kotabaru menjatuhkan vonis pidana 3 bulan 15 hari terhadap saya. Di penjara, saya mendapati beberapa pelaku pencurian, bahkan sebagian residivis. Semula yang sekedar mendengar cerita, kini saya mengalami sendiri kehidupan di penjara.

Pencuri beraksi karena himpitan ekonomi di tengah tingginya kebutuhan hidup. Di Rutan Polda Kalsel, ada seorang pencuri yang sudah beraksi 14 kali, baik di Banjarmasin, Banjarbaru, dan Martapura. Doi baru ketangkap saat mencoleng bedak dan kosmetik di sebuah ritel modern di kawasan Jalan Jafri Zam-Zam, Kota Banjarmasin.

Di Rutan Polres Kotabaru, saya malah jadi korban pencurian. Tas saya berisi kue dicuri oleh residivis kasus perampokan sarang burung walet. Ya, memang sudah watak pencuri, di penjara pun masih sempat mencuri barang milik sesama tahanan. Kawan-kawan saya yang bersimpati hendak memukuli si pencuri ini. Tapi, saya mencegah karena tak ingin ada keributan.

Jika mengacu pengakuan si ASN kawan saya, pencuri boleh jadi pekerjaan. Sebab secara harfiah, pekerjaan diartikan sebagai perbuatan atau kegiatan untuk memperoleh imbalan atau upah. Alhasil, pekerjaan dapat juga disebut mata pencaharian atau pokok kehidupan.

Adapun jenis pekerjaan yang menuntut pendidikan dan keahlian khusus disebut profesi, seperti dokter, pengacara, peneliti, dan wartawan.

Pencuri, dalam hemat saya, memang layak disebut sebuah pekerjaan. Si residivis maling kembali berulah kriminal untuk mendapat hasil demi memenuhi kebutuhan hidupnya. Si maling agaknya tak jera keluar masuk penjara karena tuntutan pekerjaan.

BACA JUGA  AJ, Oknum ASN Kotabaru Tersangka Pidana Pilkada

Namun, pencuri boleh juga disebut profesi, karena kegiatan maling tak semua orang ahli dan punya nyali. Seorang maling butuh keahlian khusus non akademis, seperti teknis mengelabuhi calon korban, mencongkel pintu rumah sasaran, menjambret atau menggasak unit kendaraan. Pencuri juga butuh nyali. Maling mesti siap digebuki massa atau ditembus pelor panas.

Apakah koruptor termasuk pencuri? Koruptor jelas pencuri uang dalam derajat terhormat. Koruptor pekerjaan yang menuntut adanya profesionalisme karena perlu keahlian lobi tanpa pendidikan mentereng.

Bila koruptor dan pencuri tergolong profesi, apakah mungkin terbentuk organisasi profesi pencuri? Jika iya, anggotanya mesti terikat kode etik profesi: etika yang berisi pasal tata krama mencuri dalam kesantunan.

Saya teringat film lawas era 1977 berjudul Raja Copet. Organisasi profesi pencopet binaan aktor Benyamin Sueb, ini punya code of ethics ketika mencopet target korban. Di antaranya pantang mencopet waria dan wanita hamil. Bahkan jika pencopet selalu gagal, ada kemungkinan dipecat dari keanggotaan para copet.

Itulah sebabnya, alih-alih tobat, sebagian napi menjadikan penjara seolah tempat mengasah nyali. Buktinya, sebagian di antara eks napi yang bebas justru mengulangi perilaku culas ketika kembali ke tengah masyarakat. Mencuri, mungkin semacam candu bagi residivis.

Entah apakah praktek lembaga pemasyarakatan yang keliru atau habituasi residivis yang menolak berubah.

Tapi, asumsi itu tak sepenuhnya benar. Ada juga eks napi yang tobat, kembali ke jalan lurus. Contohnya kawan saya eks narapidana narkoba yang kini ikut pemborong menggarap proyek infrastruktur. “Proyek kecil-kecilan mas.”

Si ASN kembali menekuni rutinitas sebagai abdi negara, setelah bebas dari penjara. Saya juga kembali beraktivitas sebagai wartawan, selepas menghirup udara bebas pada 17 Agustus 2020.

BACA JUGA  Banjir Kalsel, Petani Jual Rugi Benih Padi

Pada akhirnya, saya meyakini bahwa penjara rumah para orang-orang yang punya pekerjaan dan profesi bernyali ganda. Penjara tak menyurutkan nyali residivis. Ah, penjara cuma menakutkan bagi orang-orang yang ciut nyali dan tak meresapi profesi.

Pencarian populer:mengapa pencuri dan pecopet tidak masuk sebagai profesi Vinkmag ad
Bagikan ini :

diananta putra sumedi

Editor

Read Previous

Lagi, Kluster Perusahaan Sumbang 5 Orang Positif Covid-19

Read Next

Pengedar Sabu-sabu 5 Gram Ditangkap di HST

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *