Vinkmag ad

Isakan Tangis Mimpi Ophelia

Ilustrasi mata mimpi. Foto: Freeimages

Cerpen: M Rahim Arza

Rambut-rambut pohon seperti tali yang menjuntai dari atas sampai kepermukaan tanah. Batang besar dengan daun yang tampak lebat itu juga menjadikan suasana pohon Kariwaya bertambah angker dan misterius. Konon, bagi warga Tabalong ada penunggunya.“Uurang halus,” ucap Piet Pagau tiap kali sering ditanya oleh pendatang.

Desa Haruai, kerap mendapati hal mistis dari pohon Kariwaya, dan penampakan itu sudah berlangsung lama bagi kalangan suku Dayak Deyah. Tiap pekan, mereka tengah disibukan dengan ritual memakani pohon dengan sesajian ayam mati, bubur merah dan putih serta kopi pahit tersajikan dalam ritual untuk menghormati leluhur terdahulu.

Nilai-nilai leluhur itu masih kian kental pada sebagian warga yang memiliki kepercayaan Balian tersebut. Dipegunungan Meratus sana, sebelum hutan banyak ditebang oleh pemerintahan 1980-an hingga saat ini, hingar bingar penghuni rimba yang serba liar dengan anak-anak bermain Babat.

Ophelia, perempuan berkulit putih kesusuan itu sering berteduh di bawah batangan Kariwaya. Suasana asri dan rimbun dengan semak-semak belukarnya telah menjadi atap sejak ia kecil. Bagi Ophelia tidak seram pohon Kariwaya, malah meneduhkan dirinya tanpa ada keraguan sedikit pun dihatinya. Puluhan tahun ia menghabiskan waktu dengan pohon-pohon besar di sekitaran rumahnya. Kini Ophelia hanya bisa menggigit jari setelah menyadari pohon yang dulu jadi sandarannya, tiap bermain.

Kini, telah berkurang dan semakin pengap udara yang masuk di kampung halamannya itu. Seiring bulan telah ia lalui. Hari-harinya semakin aneh, melihat wajah-wajah orang di sekelilingnya. Wajah kampung itu seakan sudah disulap begitu saja. Dahulu ia rasakan oksigen terbaik adalah hutan. Sekarang udara yang datang asal usulnya dari mana? Herannya sejenak. Hanya menatap kelu diantara pepohonan yang tersisa di samping rumahnya.

“Nak, kau kenapa melamun disini. Tidak baik lama-lama di senja hari. Sudah gelap,” ucap Indung Sumbi kala menyentuh bagian bahu sambil memberikan petunjuk lain, “Apa ini Ma,” tanya Ophelia kebingunan.

Indung Sumbu tentu khawatir melihat anak sulungnya tersebut turut bersedih. Dilema. Suasana bimbang terus menyita pikiran keluarga kecilnya. Ophelia pun tak henti menagih apa yang selama ini disebunyikan kedua orangtuanya. Mata Indung Sumbi mulai tampak menghitam, sesekali ia menggugurkan butiran-butiran air kecil itu dipipinya.

“Abamuuu, ya Abamu, nak.. sudah terjebak dengan situasi yang kau cemaskan itu,” ucap Indang Sumbi dengan nafas yang terpenggal-penggal. Surat kiriman suaminya itu, ia keluarkan dari balik tirai bajunya.

Ophelia sambut dengan cepatnya, seolah tak sabar ingin tahu isi dalam surat rahasia tersebut. Dia buka selembar kertas usang yang tersimpan setahun lalu itu. Perlahan terhenti, ia sentuh kertas itu dengan tatapan yang serius. Gelap.

Tunggu! Indang Sumbi mencoba meyakinkan kepada Ophelia, si anak sulungnya itu apakah siap menerima kenyataan jika bila sesuatu yang terjadi, dan sesuatu yang telah lama dipertahankannya kini bakal hilang, tak berbekas lagi. Selamanya.

Tertegun sesaat.

Kemudian Ophelia menarik nafas dan melirik ke arah ibunya, Indang Sumbi. Ophelia sedikit membuka senyum. Walaupun ada keraguan yang tersimpan jauh dihatinya. Menunjukan bahwa ia cukup tegar dan perkasa sebagai perempuan Balian, adalah satu-satunya perhiasan yang dimiliki perempuan berkening tebal itu.

Walaupun ia kerap menunjukan drama terbaiknya, hanya saja kini tak bisa tertahankan lagi.

“Saatnya kau harus tahu, Nak. Lagian kau tidak baik berlama-lama disini,” seru Indang Sumbi pelan. Semakin penasaran. Menambah semangat ia mulai memberanikan tuk membacanya.

Untuk anak sulungku, Ophelia.

Nak, ini Aba. Sudah tiga tahun lamanya tak serumah denganmu. Kini, keadaan Abah sehat aja. Moga kau dalam keadaan baik juga. Surat ini Aba tulis dalam keadaan kalut, entah perasaan apa ingin kukatakan kepadamu wahai anakku, bahwa segala angan yang kita rajut dahulu kini telah sirna begitu saja. Ada campur tangan orang lain bahwa alasan kampung kita tak aman lagi untuk dihuni. Maka, dengan ungkapan inilah Aba rasa Ophelia, moga, cukup mengerti dan tegar menerima ini.

Singkatnya, demikian penjelasan yang melukai wajah suku kita; Tanah seluas 11 Hektar yang kita miliki telah diserahkan ke perusahaan. Bukan Aba yang ingin, bukan. Ini desakan dari beberapa orang yang dikenal, beberapa tak dikenal bahkan asing dimata Aba. Orang yang menjaga tempat hunian kita saja tidak berkuasa, Nak. Pemangku adat. Pun, penolakan dari berbagai cara sudah disuarakan oleh warga setempat. Dipengadilan negeri, kita kalah. Selain itu, ada hal yang tak dapat Aba ceritakan mengapa tanah itu terjual. Ini demi keselamatan keluarga kita. Jadi, Aba tidak ada kuasa lagi dengan tanah itu. Mungkin beberapa bulan lagi kita harus pindah. Semoga kau menerima dan ikhlas setelah membaca surat ini, Nak. Sekian, salam dan doa Aba untukmu.” tertulis 22 Maret 2019, tergores tanda tangan dan bentuk emotion senyum disamping kiri kertas yang berlipat usang tersebut.

Sebagian surat terlihat ada bercakan tanah dan simbol garis tangan yang menandakan Abanya sedang kerja keras sambil menyempatkan waktu untuk menulis surat untuk Ophelia.

Kemudian, Ophelia tersentak. Termenung. Keningnya mulai mengerut ke bawah dan nafasnya tersengal sedikit. Setelah menyadari bahwa kampung Jaro benar-benar terjadi sesuatu, nyata, sesuatu keanehan yang selama ini ia lihat. Baru ia pahami dari surat yang dikirimkan Abanya.

Dengan keharusan ia jalani sebagai perempuan rimba terakhir yang dapat menikmati lanskap Hutan Hujan Tropis ini. Kenangan-kenangan yang dibayarnya sejak kecil tak dapat lagi ia rasakan. Mengenang, itulah cara terakhir Ophelia rasakan.

Mungkin yang dilakukannya di masa akan datang, tak lagi sama. Karena kebahagiaan Ophelia tertinggi ada pada hutan, termasuk pohon Kariwaya yang sering ia panjat tanpa hati-hati, berambisi tanpa takut. Itulah Ophelia, si anak rimba terakhir.

Seperti turun temurun dari leluhurnya, katanya bukan anak Meratus kalo tidak menyatu dengan hutan di sekitar.
Hanya saja hari itu, Ophelia sengaja tidak ingin keluar desa. Ingin berlama-lama di kampung Haruai, sesekali ia termenung di Riam Mambanin. Terbayang ada pasukan bersejata yang hendak menodongnya di kepala. Lalu terbangun dari sadarnya. Oh, hanya ilusi, katanya.

Kali ini ia menyadari sesuatu, bukan bunyi sembarangan. Tampaknya dari Barat sana, sesuatu benda nyaring yang sangat mengganggu waktu istirahatnya. Entah hantu apa, dari mana, sungguh hantu-hantu disini cukup ia kenali. Tak seberisik ini. Dia langsung bergegas menuju arah bunyi tersebut. Langkahnya pelan, tangannya gemetar memeluk dibalik pohon yang kiranya tidak diketahui hantu-hantu itu.

Ternyata, bunyi itu berasal dari benda keras yang dipegang oleh manusia asing. Sungguh asing layaknya hantu di siang hari. Hantu yang dianggapnya itu benar-benar asing, ia curiga. Tatapnya penuh tajam. Selidiknya, kemudian dia dikagetkan oleh seseorang dari belakang.

“Kau siapa?” tanya salah satu petugas karyawan PT Borneo Angkasa.

“Saya anak orang pedalaman sini. Bapak siapa?” tegasnya, sembari menanyakan balik kepada orang bertopi putih berseragam tersebut. Ia lirik penuh curiga.

“Kami pemilik tanah ini. Sebaiknya kamu jauh-jauh dari tempat ini. Untuk anak seusiamu tak baik bila ada di sini terus-menerus, apalagi menghirup udara disekitar sini. Saya aja menggunakan penutup mulut dan hidung. Sana gih pergi,” tegasnya.

“Beraninya kau suruh saya pergi dari tempat ini. Tidak. Ini tanah milik kami, tak ada hak untuk mengusir,” seru Ophelia penuh ambisi, kemudian ia lari.

Tak jauh dari tempat yang ia tinggalkan tadi. Melihat sebatang pohon tumbang, tersayat-sayat dan potongannya berserakan. Sekejab mata Ophelia mengeluarkan air yang berguguran deras dipipi manisnya itu, tak tertahankan lagi.

Tangannya menggenggam.

Ingin melampiaskan ke siapa? Angin hutan seolah berbisik di telinganya: Kau tak perlu menangis anak malang. Anak perempuan rimba terakhir itu harus kuat. Peluknya Kariwaya besar itu, air dimatanya tak henti menetes. Membasahi ke sekujur batang yang terpotong-potong tersebut. Meruah.

Sentuh Piet Pagau, lelaki tua yang disebut Damang itu. Membisiki pelan kepada Ophelia, banguun.. bangun.

Terbangun dari mimpi buruknya. Ophelia sadarkan diri, tergeletak di atas bahu pohon besar yang menyandarkan tubuh mungilnya tersebut. Ada tetesan air dipipinya jatuh, disapunya dengan tangan. “Ah, ini keringat mimpi entah dari mana, benar-benar basahi ke seluruh wajah.”

Tersenyum kepada Piet Pagau, seolah menutupi raut sebenarnya. Ia kembali sumringah. Sesaat.

Menyadari sesuatu, ia mengalami mimpi buruk dan kejadian-kejadian yang tak mengenakan terhadap Aba, tanah Haruai dan Kariwaya di tangan petugas asing itu. Mimpinya seolah nyata bagi Ophelia, namun ia sadar, ingatan itu tetaplah hal yang harus dikuburnya dalam-dalam.

“Semoga tidak terjadi sesuatu kepada pegunungan Meratus ini,” harapnya sebagai perempuan rimba terakhir. (*)

Vinkmag ad
Bagikan ini :

Read Previous

Gampar, Memantik Kemandirian Ekonomi Rakyat saat Pandemi

Read Next

Di Batola, 40 Orang Masih Positif Covid

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Most Popular